Senin, 19 Februari 2018

Membaca Dunia, Menulis Semesta

 ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ١
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al ‘Alaq: 1)
Membaca, bukan hanya membaca tulisan tetapi membaca apa yang ada di dunia, dengan iman dan akal.
Membaca dunia, menulis semesta” adalah tagline dari Blogger Muslimah (BM), komunitas blogger yang menggerakkan muslimah untuk aktif menulis di blog karena satu tulisan yang mencerahkan akan memberikan manfaat tak terbatas. BM juga mengajak untuk menjadikan ngeblog sebagai gerakan positif bagi muslimah dengan menebar ide, pemikiran, dan informasi dalam semangat berbagi dan edukasi.

Hari Sabtu, tanggal 10 Februari 2018 yang lalu BM mengadakan meet up dengan Teteh Khadija yang selama lebih dari dua puluh tahun dikenal sebagai selebriti multitalenta di dunia hiburan Indonesia, pebisnis wanita, dan aktif melakukan gerakan sosial melalui yayasan pribadi maupun bekerja sama dengan pemerintah sebagai duta di berbagai bidang.
Beliau juga telah menerima beragam penghargaan serta memiliki pengalaman kerja internasional bersama lembaga-lembaga dunia seperti PBB, World Bank, ASEAN Youth Forum, dan sebagainya.
Pendidikan S1 dan S2-nya diselesaikan dengan predikat Cum Laude (sempurna). 

Teteh Khadija (foto: dok. member BM)
Lantas, bagaimana kiprahnya setelah berhijrah? Dan hikmah apa yang bisa kita teladani dari hijrahnya beliau? Berikut ini intisarinya:

  • Hijrah bukanlah suatu pencapaian tapi merupakan suatu perjalanan
Menurut Teteh, hijrah itu tidak mesti ditunggu kapan waktunya, karena sejak dilahirkan kita adalah hijrah itu sendiri. Sejak Allah menciptakan kita dari alam ruh Allah menghijrahkan kita ke dalam jazad, kemudian jazad dan ruh itu bersatu di alam rahim, kemudian dihijrahkan ke alam dunia lalu perjalanan kita di dunia sangat singkatnya dan selanjutnya Allah hijrahkan ke alam barzah, dipisahkan lagi antara ruh dan jazad. Jazad kembali ke tempat asalnya yaitu tanah, ruh melanjutkan perjalanan dan akan ada akhirat. Semua akan dihancurkan, dan hanya Allah yang tahu kita akan dilahirkan kembali. Apakah ruh bisa bersatu kembali dengan jazad? Wallahu a’lam bishshawab.

Arti hijrah adalah berpindah, sedangkan makna hijrah adalah perjalanan untuk selalu meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah (ada yang ditinggalkan dan ada yang dituju). Yang ditinggalkan adalah larangan Allah dan yang dituju adalah perintah Allah.
Kita diciptakan memang untuk itu sebagaimana firman Allah:
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Hijrah merupakan hakikat penciptaan kita, baik pada arti maupun makna, tapi ini akan bisa kita sadari kalau kita senantiasa melakukan tholabul ‘ilmi; iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq, kemudian sami’na wa atho’na. Baca, lalu dengarkan dan taati.
Ketika kita pahami, itu adalah Allah yang membuat kita menjadi lebih paham, sebab kita berikhtiar, karena Allah tidak akan merubah nasib sesuatu kaum bila ia tidak merubah nasibnya sendiri.
“Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Para peserta meet up BM & Teteh Khadija (foto: dok. member BM)
  •  Hidup kita ini adalah proposal
Untuk menuju kepada ketaatan, seorang muslim harus kembali membereskan aplikasi dari syahadatnya. Laa ilaaha ilallah. Tiada Tuhan selain Allah. Artinya ia harus memperbaiki perilakunya, pemikirannya, juga perasaannya, untuk tidak menduakan Allah dengan apapun juga (termasuk dengan mengejar dunia, menomorduakan shalat, membuka aurat, dan sebagainya). Bagi umat muslim, syahadat adalah akad.

Selanjutnya melakukan langkah pertama: shalat. Perbaiki shalat, dengan membiasakan shalat di awal waktu, merapikan kuantitasnya (misalnya dengan rawatib), merapikan kualitasnya (misalnya dengan tuma’ninahnya), lalu ditambah dengan shalat-shalat sunnah (dhuha, istikharah, dll).
Kemudian perbaiki shaum, wajib dan sunnah.
Kalau kita melakukan hal-hal ini (termasuk menutup aurat misalnya) artinya kita baru mengajukan proposal pada Allah karena kita berharap bahwa Allah yang akan menggenapkan hijrah kita di hadapan-Nya.

Hisab ada di tangan Allah, kita tidak tahu sejauh mana hitungan (amal) kita. Yang bisa kita lakukan adalah memperbaiki diri terus menerus di hadapan Allah. Semakin kita menyempurnakan diri di hadapan Allah sama artinya kita sedang menyempurnakan proposal/tulisan/presentasi kita kepada Allah.

Istigfar: memohon untuk diampuni dosa. Ini artinya kita mengajukan proposal. Yang menghapus dosa adalah Allah.
Kita meminta dimatikan dalam keadaan husnul khatimah. Ini juga proposal. Yang mematikan adalah Allah.
Hidup kita ini semua adalah proposal. Maka beribadah kepada Allah tidak boleh ge-er. Merasa sudah banyak beribadah tetapi doanya tidak kunjung Allah kabulkan.
So, keep on making the proposal. Mengenai kapan proposalnya dikabulkan dan dengan cara apa Allah menerimanya, semuanya merupakan kehendak Allah. Tugas kita adalah mengajukan proposal dan terus menyempurnakannya.

Buku karya saya sebagai hadiah untuk Teteh Khadija (foto: dok. member BM)
  • Allah menciptakan manusia untuk diuji, dengan kesusahan maupun kesenangan
Allah akan memberikan ujian-ujian-Nya kepada diri kita agar hati selalu terikat pada-Nya.
Takdir baik dan takdir buruk, semuanya merupakan ujian dari Allah agar kita mencari kebenaran. Semua petunjuknya sudah ada di dalam Al Qur’an. Maka ketika Allah beri takdir buruk kita harus mencari kebenarannya dengan petunjuk-petunjuk itu.
“... Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu. ...” (QS. Al-Ma’idah: 3)
Allah menciptakan manusia untuk diuji, dengan kesusahan maupun kesenangan.
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (QS. Al Insan: 2)
Acara dimoderatori oleh founder BM, Uni Novia Syahidah Rais (foto: dok. member BM)
  • Kunci hidup ini adalah mengingat Allah
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Dalam diri kita ada segumpal daging, bila dia baik maka semuanya akan baik, dan bila dia buruk semuanya akan buruk. Itu adalah hati. Maka bila hati kita tenang semuanya akan baik. Kalau kita sudah mulai ‘turun’ dalam mengingat Allah maka hati pun akan semakin ‘turun’ dan hidup kita akan semakin kacau.
Hati-hati soal hati. Karena ini adalah inti dalam hidup kita. Ketika kita tidak mengingat Allah, iman akan turun. Ketika kita semakin mengingat Allah maka iman akan naik terus.
Hidup ini kuncinya adalah mengingat Allah, karena kita diciptakan oleh Allah, maka begitu ikatan kita dengan Allah mengendur maka kendurlah semua urusan akhirat kita. Antara kita dan Allah terdapat direct bonding (ikatan langsung). Jadi apapun ujian yang kita terima, kuatkan ikatan kita dengan Allah.
“Dan barangsiapa berserah diri kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul (tali) yang kokoh. Hanya kepada Allah kesudahan segala urusan.” (QS. Luqman: 22)
Menyerah berarti hati kita diserahkan kepada Allah, bukan berarti tak berbuat apa-apa. Dengan terjaganya ikatan dengan Allah maka ‘rumus’ Allah akan berjalan (dalam Al-Qur’an Allah berfirman: “Wajib bagi-Ku menjaga orang-orang beriman.”).
Yang mengukur/menghitung iman kita adalah Allah. Tugas kita hanyalah mengerjakan saja.

Cendera mata untuk Teteh Khadija (foto: dok. member BM)
  • Allah selalu memberikan peringatan kepada kita
Dalam banyak ayat Al-Qur’an (antara lain QS. Hud: 15-16, QS. Al A’raf: 168, QS. Al An’am: 44, dan QS. At Taubah: 24) Allah telah mengingatkan kita bahwa apabila kita sudah semakin terikat pada urusan duniawi Allah akan datang untuk memberikan peringatan-Nya kepada kita.
Bila kita sudah banyak melakukan kelalaian maka peringatan Allah akan datang sebagai azab. Tetapi sebenarnya Allah tidak langung memberikan azab-Nya kepada kita.
“Sesungguhnya rahmat Allah lebih dahulu daripada kemarahan Allah.” (HR. Bukhari no. 6855 dan Muslim no. 2751)
“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.” (QS. Al An’am: 44)
Allah akan mengingatkan kita terlebih dahulu dengan segala bentuk ujian.
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 35)
Makna ujian adalah peringatan agar kita selalu mendekat/kembali kepada Allah. Bila peringatan ini sudah tidak berlaku (tidak kita pedulikan), Allah tidak akan langsung mendatangkan azab, tetapi Allah justru membukakan pintu-pintu kesenangan. Inilah yang disebut istidraj.
Ada orang yang dibiarkan Allah larut dalam kesenangan. Ada yang diberikan rangkaian pertolongan di sekitarnya, misalnya lewat dakwah, atau orang-orang yang mendoakan (ibunya, alim ulama, dll), ada juga yang melalui membaca tulisan/inspirasi.

Bagi Teteh Khadija, peringatan yang paling dahsyat berupa kesenangan-kesenangan. Kemudian dalam waktu beberapa tahun hidupnya berantakan (sakit, karir hancur, dan sebagainya). Melalui kejadian-kejadian inilah Allah memanggil.
Karenanya, bila kita sedang menghadapi suatu masalah, serahkan/kembalikan pada Allah. Kita berikhtiar dengan semakin mendekat pada Allah, memperbaiki shalat, memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, dan sebagainya.
“... Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sungguh, Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)
Banner acara
***

Itulah beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari hijrahnya seorang Teteh Khadija yang saat ini sudah berpindah dari berbagai kesibukan duniawi yang sebelumnya digeluti dan sempat membuatnya lalai dari kedekatan dengan Allah, kemudian terjun sebagai aktivis dakwah dan kemanusiaan di Indonesia maupun di 22 negara (termasuk Palestina, Suriah, Benua Afrika, berbagai negara di Eropa, dan Amerika Serikat).
Di Palestina beliau membangun sekolah untuk anak-anak cacat, pabrik kecil untuk produksi pakaian yang dikelola para janda syuhada, klinik yang memberi bantuan kaki tangan palsu untuk para korban zionis Israel dan berbagai program lain.

Di Indonesia Teteh Khadija mengelola program sosial berbasis syi'ar Islam dengan fokus membumikan Al-Qur'an, yaitu mengadakan pelatihan baca Al-Qur'an gratis bagi kelompok-kelompok muslimah di pelosok Indonesia dan dalam tiga tahun ini telah memberi manfaat kepada lebih dari 10.000 muslimah, bekerjasama dengan Corps Da'i Dompet Dhuafa.
Beliau juga masih menjalankan proyek sosialnya yaitu 99 Rumah Belajar Al-Qur'an Asma'ul Husna untuk Anak Indonesia, yang dalam dua tahun sudah membangun 6 Rumah Qor'an di beberapa wilayah Indonesia.
Bulan November 2017, genap 4 tahun Allah izinkan Teteh Khadija (yang dulu kita kenal sebagai Peggy Melati Sukma) berhijrah.
Masya Allah.
***

Terima kasih untuk para sponsor yang telah mendukung terlaksananya acara ini:

PROXSIS Consultants  dan IT Learning Center, perusahaan konsultan manajemen terpercaya dan berpengalaman dalam membantu perusahaan nasional dan multinasional dalam mengembangkan perusahaan mereka melalui berbagai training.
Proxsis sangat membuka diri untuk komunitas-komunitas yang ingin mengadakan berbagai acara dengan menyediakan co-working space (seperti event BM ini yang tempatnya disediakan oleh PROXSIS). Desain interiornya cukup cozy, salah satunya ini: Proxsis Lounge & Cafe.

Ruangan PROXSIS yang cozy

Rumah Hijab Alsa, menyediakan brand Hijab Alsa yang syar'i asli dari INDONESIA. Dengan berbagai model desain yang simple, kekinian dan elegan. Pas untuk menemani aktivitas harian para muslimah. Untuk event BM kali ini Hijab Alsa memberikan gift berupa hijab kepada seluruh peserta yang hadir.

Gift hijab dari Hijab Alsa untuk para peserta

Ah Mah Cake, International Brand yang kini hadir di Indonesia (Egg Sponge Cake From Singapore to Jakarta!). Dibuat dengan bahan-bahan lokal sehingga aman dan halal untuk dikonsumsi. 

Egg Sponge Cake dari Ah Mah Cake untuk para peserta

Shalira Syar'i, gamis dan khimar syar'i sahabat hijrah muslimah Indonesia yang memberikan hadiah berupa gamis untuk beberapa penanya terpilih;

Penerima doorprize  dari Shalira Syar'i (foto: dok. member BM)
***

Alhamdulillah.
Semoga bermanfaat.



Related Posts:




2 komentar:

  1. Alhamdulillah, sharing session dr teh Khadina, jleb...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba. Inspiratif banget ya.
      Dan sangat memotivasi kita.
      Terima kasih sudah mampir mba ☺.

      Hapus