Senin, 26 Oktober 2015

Apa Kabar, Palangkaraya?



Jembatan Kahayan - before & after (sumber: www.EndahWidowati.com dan www.aktual.com)

Bagi saya, yang baru satu kali berkunjung ke Palangkaraya -ibu kota Kalimantan Tengah-, kota ini lumayan indah dan menyenangkan.
Suasananya tenang, tidak hiruk pikuk (bahkan cenderung lengang), jalannya lebar-lebar dan muluuss, nyaris tidak kami temui kemacetan di sana.
Karena tanpa macet maka untuk berkunjung dari satu tempat ke tempat lain pun relatif lancar dan tidak memakan waktu lama.

Berdasarkan informasi dari beberapa sumber, dulu Palangkaraya pernah direncanakan menjadi ibu kota RI oleh Presiden Soekarno. 
Mungkin karena itulah kota ini didesain dengan infrastruktur yang sangat memadai.

Bagi para traveler, menyewa kendaraan untuk berkeliling adalah pilihan yang cocok. Selain bisa menghemat biaya (dengan cara patungan, tentunya ^_^), pengemudinya dapat sekaligus berperan sebagai pemandu wisata dan fotografer, juga lebih cepat karena perjalanannya melalui jalan-jalan yang mulus tadi.

Oh ya, di jalanan Palangkaraya kita akan banyak menemui kendaraan-kendaraan ber-cc besar produksi negeri tetangga yang keren-keren.

Beberapa tempat yang sempat kami kunjungi antara lain:


Tugu Pemancangan Tiang Pertama Kota Palangkaraya

Tugu ini diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 17 Juli 1957 sebagai tanda dimulainya pembangunan Kota Palangkaraya.
Desainnya cantik, bagus untuk berfoto ria :)

Letaknya tak jauh dari pintu masuk wisata susur sungai.











Jembatan Kahayan

Membentang di atas sungai Kahayan, jembatan ini sangat artistik desainnya. Bahkan terlihat semakin cantik di malam hari.

Dibangun tahun 1995 dengan panjang 640 meter, jembatan ini menghubungkan kota Palangkaraya dari jalan Pierre Tendean menuju Kelurahan Pahandut di mana terdapat akses jalan tembus ke Kabupaten Pulang Pisau, Gunung Mas, Kapuas, Barito Selatan, Barito Utara, dan kota-kota lainnya.



Wisata Susur Sungai

Sebagaimana layaknya wilayah-wilayah di Kalimantan, keberadaan sungai merupakan hal yang cukup dominan di Palangkaraya.

Di sana terdapat sungai Kahayan, sungai sepanjang lebih dari 600 km yang membelah kota Palangkaraya.
Sungai yang bermuara di Laut Jawa ini melintasi Kota Palangkaraya, Kabupaten Gunung Mas, dan Kabupaten Pulang Pisau.

Sungai ini digunakan sebagai rute perjalanan kapal wisata susur sungai, yang salah satunya dilayani oleh KM. Lasang Teras Garu;




Ada juga kapal yang lain:




Selain dengan kapal besar, susur sungai juga dapat dilakukan dengan perahu-perahu kecil untuk jarak dekat, misalnya sambil kita menunggu matangnya ikan bakar yang kita pesan untuk makan siang di restoran-restoran di sepanjang sungai, kita bisa memanfaatkan waktu dengan berperahu menyusuri sungai.

Biasanya disediakan semacam dermaga kecil di setiap restoran itu untuk memudahkan pengunjung naik ke perahu.








Penangkaran Orangutan Nyaru Menteng



Penangkaran ini dikelola oleh Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS).
Lokasinya berhutan-hutan, teduh, dengan udara yang sangat sejuk.
Akses masuk pengunjung dibatasi hanya di bagian depan agar tidak mengganggu aktivitas para orangutan, karena mereka sedang menjalani proses pelatihan untuk dilepaskan kembali ke alam bebas (diliarkan).
Untuk menyaksikan orangutan hanya diperbolehkan pada hari Ahad pukul 9.00-15.00 melalui kaca berukuran besar.







Bukit Tangkiling dan Batu Banama

Bukit Tangkiling adalah bukit batu. Banyak batu berukuran besar di sana, salah satunya adalah batu Banama.




Ada satu legenda yang dikaitkan dengan batu ini.
Konon, batu ini dulu adalah perahu. Namun karena melakukan pelanggaran maka dikutuk menjadi batu.


Di sekitarnya banyak terdapat miniatur rumah-rumahan sebagai tempat untuk meletakkan sesaji.



Rumah Betang dan Taman Kota

Di tengah kota terdapat bangunan berbentuk rumah adat suku Dayak yang disebut Rumah Betang.

















Tak jauh dari situ terdapat sebuah taman kota yang cantik.



Pusat Oleh-oleh dan Suvenir

Dalam setiap perjalanan, kami berusaha megalokasikan waktu untuk berkunjung ke pasar tradisional setempat dengan menggunakan angkutan umum.
Rasanya menyenangkan, bisa berinteraksi dengan warga lokal, mengenal berbagai tradisi dan komoditas yang dihasilkan, serta bertransaksi langsung dengan mereka.
Khusus di Palangkaraya, kami menemukan tempat yang asyik di jalan Batam.
Di sana berjajar kios-kios yang menjual aneka cenderamata khas Palangkaraya dan Kalimantan.
Mulai dari berbagai jenis batu permata dan cincin, aneka kerajinan dari kayu, rotan, manik-manik, anyaman, kain, dan banyak lagi, serta berbagai makanan ringan khas daerah yang sangat banyak pilihannya.


Penginapan

Kami memilih hotel Luwansa Palangkaraya untuk menginap.
Hotel ini terletak di jl. G. Obos 102 Palangkaraya.
Lokasinya strategis, tidak terlalu jauh dari Bandara Tjilik Riwut.
Fasilitasnya cukup bagus.
Dari balkon luar kafetarianya kita dapat menikmati pemandangan kota Palangkaraya dari kejauhan.




 






***

Palangkaraya dan Kabut Asap

Dari foto-foto di atas ada kesamaan yang dapat kita lihat, yaitu birunya langit Palangkaraya. Sangat indah.
Namun, tahukah sahabat, akibat kabut asap dari pembakaran hutan yang telah berlangsung beberapa bulan terakhir ini, kondisi di Palangkaraya berubah drastis.
Berikut ini sedikit gambar yang kami himpun dari berbagai sumber:

Jembatan Kahayan dalam selubung kabut asap (sumber: www.aktual.com)
Sumber: FB Dandhy Dwi Laksono dan Ekspedisi Indonesia Biru
Sudah bukan kelabu warnanya, tetapi kekuningan (sumber: www.news.detik.com)
Kondisi kota (sumber: twitter @EH Palangkaraya)
Kondisi di Penangkaran Orangutan Nyaru Menteng (sumber: www.foto.metrotvnews.com)
Bayi orangutan di Nyaru Menteng harus tinggal di dalam ruangan agar tidak terkena ISPA (sumber: www.orangutan.or.id)
Konsentrasi Partikel PM10 sudah mencapai jauh di atas tingkat berbahaya (sumber: twitter @EHPalangkaraya)

Aksi Nyata

Sedih? Marah?
Pastinya.
Lalu, apa yang dapat kita lakukan?
Kalau hanya mengutuk dan mencaci mungkin tidak terlalu berguna ya.

Jadi, mari lakukan tindakan nyata.
Apa itu?
Kurangi konsumsi barang-barang yang berbahan baku minyak sawit.

Mengapa sawit?
Karena itulah penyebab utama pembakaran hutan besar-besaran yang dilakukan dengan membabi buta dan telah berlangsung bertahun-tahun lamanya.
Ya, hutan dibabat untuk ditanami pohon sawit dan dijadikan areal perkebunan sawit.

Lahan bekas kebakaran di Nyaru Menteng Palangkaraya sudah ditanami kelapa sawit. Habis bakar terbitlah sawit (sumber: twitter @Sutopo_BNPB)

Untuk apa hasilnya?
Minyak sawit adalah komponen utama dari berbagai produk yang (kemungkinan besar) kita konsumsi/gunakan setiap hari, antara lain: minyak goreng dan kosmetik (diantaranya: sabun mandi).

Lalu, apa penggantinya?
Untuk menggoreng, mulailah menggunakan minyak kelapa. Selain jauh lebih sehat juga berarti mengurangi konsumsi minyak sawit.
Untuk sabun mandi dan kebersihan serta perawatan lainnya, gunakan baking soda murni. Selain murah, alami (yang tentu saja tidak berdampak buruk bagi kesehatan), juga ramah lingkungan, sehingga dapat berperan dalam mengurangi pencemaran lingkungan.
Beberapa manfaatnya saya tulis dalam artikel ini: "Baking Soda,yang 'Sakti' dari Dapur Kita".
Baking soda juga dapat berfungsi sebagai pemurni udara termasuk di wilayah yang terpapar asap. Caranya ada di artikel ini: "Memurnikan Udara dengan Baking Soda".

Yuk, lakukan bersama-sama!
Untuk mengembalikan langit biru dan udara bersih Palangkaraya dan kota-kota lain di negeri tercinta ini.
In sya Allah.

Mari #BantuKorbanAsap (sumber: twitter @EHPalangkaraya)

***





Related Posts:




Tidak ada komentar:

Posting Komentar