Tampilkan postingan dengan label Books. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Books. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Oktober 2017

Adab Berjalan - 3

Pada tulisan sebelumnya, 'Adab Berjalan - 2' telah dijelaskan hal-hal terkait postur tubuh pada saat berjalan.
Berikut ini adalah bagian terakhir yang membahas tentang adab-adab berjalan yang lainnya.


  • Menghindari cara berjalan yang tercela 
Diantara cara jalan yang tercela:
    • Berjalan dengan sombong dan takabur. Ini adalah cara jalan orang sombong dan ujub terhadap diri sendiri.
    • Berjalan dengan gelisah dan gemetar, yaitu dengan menoleh ke kanan, ke kiri, dan ke belakang. Ini adalah cara jalan orang yang goncang akalnya.
    • Berjalan dengan loyo seperti orang sakit. Ini adalah cara berjalan yang buruk.
    • Berjalan dengan berlenggak lenggpk disertai gerakan lemah gemulai sehingga meniru lawan jenisnya (kaum wanita).
    • Berjalan terburu-buru dan terlalu cepat seperti seperti berlari tanpa hajat dan keperluan.
    • Berjalan terburu-buru dan terlalu cepat seperti berlari tanpa hajat dan keperluan.
    • Berjalan seakan-akan melompat.

Adab Berjalan - 2

Bersikap tawadhu' dan meninggalkan sikap sombong adalah salah satu adab yang harus dimiliki oleh seorang seorang muslim, termasuk dalam berjalan.
Hal ini telah dijelaskan dalam tulisan sebelumnya, 'Adab Berjalan - 1'.
Berikut ini akan dibahas adab-adab berjalan yang lainnya:


  • Berjalan normal
Yang dimaksud berjalan normal adalah pertengahan, antara berjalan terlalu lambat dan terlalu cepat.
Allah berfirman:
"... Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS. Luqman: 18).
Ibnu Katsir berkata, "Maksudnya, berjalan biasa saja, tidak terlalu lambat dan tidak terlalu cepat. Namun, pertengahan di antara keduanya." (Tafsir Ibnu Katsir [III/585]).

Senin, 30 Oktober 2017

Adab Berjalan - 1

Berjalan adalah aktivitas yang (hampir) selalu kita lakukan.
Bila seseorang berjalan di jalan untuk suatu urusan, hendaknya ia menjaga adab-adab khususnya yang berkaitan dengan berjalan, diantaranya:


  • Niat yang benar
Hendaknya seseorang menghadirkan niat yang benar ketika berjalan. Jika seseorang berjalan untuk menziarahi sahabatnya, hendaklah ia meniatkannya untuk mencari ridha Allah Ta'ala dalam ziarah tersebut. Bila berjalan ke masjid, hendaknya menghadirkan niat untuk beribadah kepada Allah Ta'ala. Jika keluar bekerja, hendaknya ia berniat untuk mencari rizqi dan penghidupan bagi keluarganya. Bila berjalan untuk suatu permainan yang diperbolehkan, hendaknya meniatkan untuk mencari penyegaran agar jiwa kembali segar dan bersemangat dalam beribadah dan lain-lain.

Kamis, 26 Oktober 2017

Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 12

Bersafar merupakan bagian dari adzab sebagaimana telah diuraikan dalam tulisan sebelumnya: 'Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 11'.
Pada tulisan ini yang merupakan bagian terakhir dari adab-adab di dalam perjalanan, akan dibahas mengenai kepulangan seorang musafir setelah bersafar.


  • Mengabarkan kepada keluarga tentang kepulangannya

Hendaknya seorang musafir memberi kabar baik dengan surat, melalui telepon, atau lainnya, bahwa ia sedang dalam perjalanan atau pulang pada hari ini atau saat ini, sehingga keluarganya dapat membuat persiapan untuk menyambutnya dan menyiapkan diri untuk itu.

Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam berkata kepada Sahabatnya sekembalinya dari safar:

Rabu, 25 Oktober 2017

Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 11

Rasulullah menganjurkan kita untuk bersafar pada malam hari. Mengapa?
Hal ini telah dibahas dalam tulisan sebelumnya: 'Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 10'.
Berikut ini akan dibahas adab-adab bersafar yang lainnya:

  • Menjauhkan diri dari perbuatan maksiat
Meninggalkan perbuatan maksiat (yang besar maupun kecil) wajib hukumnya setiap waktu. Hanya saja, musafir kadang kala dibujuk dan dirayu oleh syaitan untuk jatuh ke dalam perbuatan maksiat, bahkan syaitan menggambarkan indahnya perbuatan maksiat itu kepadanya. Terlebih lagi di tempat di mana tak seorang pun dapat mengenalinya. Syaitan akan terus merayunya agar jatuh dalam perkara yang buruk.
Berapa banyak wanita-wanita yang menjaga hijab (jilbab) dan menutup aurat di negerinya, namun ketika keluar dari negerinya ia membuka hijab dan menampakkan aurat tubuhnya, bahkan berani berbuat maksiat.
Berapa banyak laki-laki yang keluar dari tempat tinggalnya lalu mendatangi tempat-tempat munkar, memakai pakaian orang-orang fasik, serta menghabiskan harta dan waktunya untuk bermaksiat kepada Allah.

Senin, 23 Oktober 2017

Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 10

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya: 'Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 9' yang membahas tentang beristirahat di tengah perjalanan (safar).
Berikut ini akan diuraikan mengenai keutamaan bersafar pada malam hari.



  • Menjadikan waktu safar banyak dilakukan pada malam hari
Jika memungkinkan dan seseorang bisa mengendalikan alat transportasi yang dikendarai tanpa menimbulkan mudharat baginya, maka bersafar pada malam hari adalah baik.
Namun apabila ada mudharat dan kesulitan, misalnya lemah pandangan sehingga tidak mampu menyetir pada malam hari atau terikat safar dalam alat transportasi umum sehingga tidak mampu meninggalkannya, maka janganlah menyusahkan diri sendiri.
Sebaiknya, jika safar itu memungkinkan baginya, maka sesungguhnya safar pada malam hari itu lebih ringan daripada siang hari.

Minggu, 22 Oktober 2017

Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 9

Pada tulisan sebelumnya: 'Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 8' telah dibahas mengenai doa dan dzikir ketika bersafar.
Selanjutnya pada tulisan ini akan dijelaskan mengenai beristirahat dalam melakukan safar.


  • Istirahat di tengah perjalanan
Hendaknya musafir beristirahat di tengah perjalanan, terlebih bila jarak safarnya sangat jauh. Oleh karenanya setiap kali ada kesempatan hendaklah mereka berhenti, mengistirahatkan kendaraan, mobil, atau tunggangannya. Ketika beristirahat, mereka menyiapkan hal-hal yang perlu disiapkan (bahan bakar, air, dan lain-lain), atau memberikan makanan untuk hewan tunggangan, juga mengistirahatkan badan, menunaikan hajat, mencicipi hidangan makanan, minuman, dan sejenisnya.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
"Apabila kalian tengah melintasi tanah yang subur, maka berilah bagian kepada unta tunggangan untuk makan dari rumputnya ..." 
Hendaknya kita memperhatikan adab-adab ini agar alat transportasi yang digunakan bisa melewati berbagai kesulitan dalam safar.
Para musafir hendaknya juga tidur bila mampu. Sebab, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersafar lalu singgah pada malam hari, maka beliau pun berbaring di atas sisi kanan beliau. Sementara apabila singgah menjelang shubuh beliau menegakkan lengan dan meletakkan kepala beliau di atas punggung telapak tangan beliau." (HR. Muslim [683] dari Anas Radhiyallahu 'anhu).
Dalam hadits ini terdapat dalil dianjurkannya tidur untuk istirahat, bahkan dijelaskan pula tata cara tidur yang dianjurkan.

Jumat, 20 Oktober 2017

Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 8

Dalam tulisan sebelumnya: Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 7 telah dijelaskan mengenai doa keluar rumah dan doa naik kendaraan.
Kemudian doa dan dzikir apa lagi yang perlu kita ucapkan ketika berada di dalam perjalanan? 


  • Doa bersafar
Apabila kendaraan untuk bersafar telah bergerak dan mulai berjalan hendaklah berdoa dengan doa yang diriwayatkan oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang artinya:
"Ya, Allah, sesungguhnya kami memohon kebaikan dan takwa dalam bepergian ini, kami memohon perbuatan yang Engkau ridhai. Ya, Allah, permudahlah perjalanan kami ini, dan dekatkan jaraknya bagi kami. Ya, Allah, Engkaulah pendampingku di dalam bepergian dan pengganti dalam mengurus keluargaku (yang ditinggalkan). Ya. Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari kelelahan dalam bepergian, pemandangan yang menyedihkan, serta keadaan yang buruk dalam harta dan keluarga saat kembali."
Hendaknya juga mengucapkan ta'awudz yang biasa diucapkan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
"Jika melakukan safar, beliau berlindung dari beratnya safar, dari buruknya saat kembali, dari kesesatan setelah mendapatkan hidayah, dari do'a orang yang terzhalimi, serta dari buruknya kondisi pada keluarga dan harta."

Rabu, 18 Oktober 2017

Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 7

Pada tulisan sebelumnya: Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 6 telah dibahas mengenai apa yang hendaknya dilakukan oleh seorang pemimpin rombongan dalam perjalanan.
Selanjutnya akan diuraikan beberapa doa terkakit dengan safar.


  • Safar pada hari Kamis
Safar yang dilakukan pada hari Kamis adalah sunnah sebagaimana disebutkan dalam hadits:
"Jarang sekali Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam keluar apabila beliau hendak bersafar, melainkan pada hari Kamis." (HR. Al-Bukhari [2949] dari Ka'ab bin Malik).
Ini adalah sunnah yang penuh berkah, yang perlu diperhatikan untuk dilakukan apabila memungkinkan. Namun jika tidak, sesungguhnya hal ini tidak wajib. Terlebih lagi bila ada keharusan bersafar pada hari selain Kamis.
  • Keluar pagi-pagi untuk bersafar
Hendaknya seseorang yang bersafar berangkat pagi-oagi bila memungkinkan.
Hal ini dapat mendatangkan berkah dan menggairahkan semangat serta mempercepat sampainya ke tempat tujuan.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
"'Ya, Allah, berkahilah urusan ummatku yang dikerjakan di pagi hari.'"
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam biasa mengirim pasukan di pagi hari. Oleh karena itu hendaklah memperhatikan adab ini sedapat mungkin karena pada pagi hari terdapat berkah. Namun jika tidak, juga tidak mengapa.

Selasa, 17 Oktober 2017

Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 6

Dalam tulisan sebelumnya: 'Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 5
telah dibahas mengenai pentingnya mengangkat seorang pemimpin dalam rombongan yang sedang bersafar.
Lantas, hal-hal apa saja yang sebaiknya dilakukan oleh seorang pemimpin rombongan?


  • Seorang pemimpin hendaklah bermusyawarah dengan anggota rombongan
Janganlah seorang pemimpin memaksakan kehendaknya di dalam mengambil keputusan.
Hendaklah ia bermusyawarah dan mendengarkan pendapat anggota rombongannya. Barangkali ia akan mendapatkan kebenaran dari pendapat mereka.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"... Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka ..." (QS. Asy-Syuura: 38).
 "... Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu ..." (QS. Ali 'Imran: 159).
Seorang pemimpin memilih pendapat yang bail diantara pendapat-pendapat yang ada, atau dari pendapatnya.
Siapa saja yang tidak diambil pendapatnya tidak boleh menyelisihi pemimpin, marah, atau melecehkannya.
Hendaknya ia menerima  pendapat anggota rombongan.
Janganlah ia memprovokasi orang lain dan menceraiberaikan barisan serta memecah belah jamaah safar.

Senin, 16 Oktober 2017

Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 5

Setelah membahas tentang memilih teman dalam bersafar pada tulisan sebelumnya: "Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 4", dalam tulisan kali ini akan dibahas mengenai doa bagi keluarga yang ditinggal bersafar dan pentingnya memilih pemimpin rombongan dalam melakukan perjalanan.


  • Mendoakan keluarga dan karib kerabat yang ditinggalkan
Hal ini dilakukan agar dapat menenangkan perasaan mereka.
Sebagaimana yang dicontohkan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam ketika hendak bersafar, beliau mengucapkan doa untuk keluarganya yang artinya:
"Aku menitipkan kalian kepada Allah yang tidak akan hilang titipannya." (HR. Ahmad [II/403] dan Ibnu Majah [2825] dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu. Lihat kitab Shahiihul Jaami' [958]).
Bila ia titipkan keluarganya kepada Allah, niscaya Allah akan menjaga mereka.
Kemudian mereka pun melepasnya dengan ucapan:
"Kami menitipkan kepada Allah agamamu, amanahmu, dan akhir dari amalanmu." (HR. Ahmad [II/25, 38], Abu Dawud [2600], dan an-Nasa-i di dalam al-Kahiir [V/10346] dari Ibnu 'Umar. Dikeluarkan juga oleh Ahmad [II/7], at-Tirmidzi [3443] dan dishahihkannya, dan Ibnu Majah [2826 dari Ibnu 'Umar. Silakan lihat kitab Shahiihul Jaami' [957]).

Sabtu, 14 Oktober 2017

Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 4

Dalam tulisan sebelumnya: 'Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 3' telah dibahas adab-adab bersafar antara lain yang terkait dengan harta untuk keluarga yang ditinggalkan.
Berikut ini beberapa adab bersafar lainnya yang berhubungan dengan teman bersafar.


  • Mengundi di antara isteri-isteri
Mengundi dilakukan apabila seorang laki-laki memiliki lebih dari satu isteri.
Siapa yang keluar undiannya berarti ia yang keluar bersamanya.
Sebagaimana yang dilakukan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam: "Jika hendak keluar (safar), beliau mengundi isteri-isteri beliau. Siapa yang keluar undiannya berarti ia yang keluar bersama Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam." (HR. Al-Bukhari [2879] dari 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha).
Pengundian perlu dilakukan unruk menutup pintu permasalahan dan kecemburuan di antara isteri-isteri, sebab tidak ada campur tangan suami dalam pengundian tersebut.
Sebagaimana dimaklumi bahwa safar itu panjang dan memakan waktu berhari-hari atau bahkan lebih sehingga seseorang membutuhkan keberadaan isterinya.
Adapun safar yang membutuhkan waktu beberapa jam atau satu hari saja, sebenarnya tidak perlu disertai isteri, kecuali bila safarnya berkaitan dengan isteri atau bersafar ke tempat yang terdapat fitnah sehingga membutuhkan kehadiran isterinya. 

Jumat, 13 Oktober 2017

Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 3

Setelah beberapa adab yang dibahas dalam tulisan sebelumnya, Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 2, kali ini akan kita lanjutkan dengan adab-adab yang masih berkaitan dengan as-safar.


  • Menunjuk orang yang dapat mengurus keluarga yang ditinggalkan
Hendaklah orang yang ingin bersafar menunjuk seseorang yang mengawasi dan mengurus urusan keluarganya serta mencukupi kebutuhan mereka, yaitu orang yang dipercaya agama dan akalnya dari kalangan karib kerabatnya. Yang memperhatikan keadaan mereka dan mengurus kemaslahatan mereka serta menjaga mereka selama ia pergi.
Banyak manusia yang melalaikan adab ini, padahal Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah melakukannya.
  • Meninggalkan nafkah untuk keluarga yang ditinggalkan
Hendaklah seseorang meninggalkan nafkah yang mencukupi keluarga ketika ia pergi bersafar. Jangan sampai keluarganya terpaksa berutang atau meminta-minta kepada orang lain untuk memenuhi hajat mereka. 
Tujuan lain ialah agar keluarganya tidak kekurangan dalam keperluan dan kebutuhan mereka, sebab kekurangan nafkah akan mengakibatkan hal yang tidak baik.

Kamis, 12 Oktober 2017

Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 2

Melanjutkan tulisan sebelumnya, 'Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 1', berikut ini beberapa adab lain yang berkaitan dengan as-safar (di dalam perjalanan):


  • Bermusyawarah
Hendaklah orang yang berniat melakukan safar bermusyawarah dengan orang yang dipercaya agama dan akalnya dari kalangan karib kerabat, famili, atau temannya.
Pendapat dua orang lebih tepat daripada pendapat satu orang.
Kadang kala saudaranya itu mengisyaratkan kepada suatu perkara penting yang bermaslahat baginya.
Akan tetapi hendaklah ia bermusyawarah dengan orang yang baik agamanya, sempurna akalnya, dan cinta kepadanya saja. 
Karena hakikat bermusyawarah adalah meminta nasihat, maka hendaklah orang yang dimintai nasihat memberikan nasihat dengan benar.
Di antara hak muslim kepada muslim lainnya adalah memberikan nasihat dengan benar dan ikhlas, sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
"... jika ia meminta nasihat, maka berikanlah nasihat kepadanya."

Rabu, 11 Oktober 2017

Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 1

Saat ini melakukan perjalanan adalah hal yang tak jarang kita lakukan, baik untuk menyelesaikan urusan agama maupun dunia.
Sebagai seorang muslim sudah sepantasnya kita memperhatikan adab-adab dan sunnah dalam bersafar yang dianjurkan dalam Islam.
Beberapa diantaranya adalah:



  • Niat yang baik
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
"Setiap amal bergantung pada niatnya dan tiap-tiap orang mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang diniatkan ..."
Safar adalah salah satu amal (shalih) maka wajib untuk menghadirkan niat yang baik, agar setiap muslim mendapatkan balasan pahala dari segala kesulitan dan biaya yang dikeluarkan.
Niat yang baik akan mencegah seorang hamba yang sedang safar terjerumus ke  dalam perkara yang dibenci  Allah dan dimurkai-Nya. Juga agar dituliskan pahala baginya sebagaimana yang dituliskannya sebelum bersafar, walaupun ia terluput dari beberapa amal shalih di dalam safar.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
"Jika seorang hamba sakit atau bersafar, maka akan dituliskan baginya seperti apa yang diamalkannya ketika ia bermukim dan sehat." (HR. Al-Bukhari [2996] dari hadits Abu Musa al-Asy'ari).
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam berkata kepada Sa'ad:
"... Tidaklah engkau mengeluarkan suatu nafkah yang engkau harapkan dengannya wajah Allah, melainkan engkau akan diberikan balasan atasnya ..." (HR. Al-Bukhari [1295] dan Muslim [1627] dari hadits Sa'ad bin Abi Waqash).

Jumat, 06 Oktober 2017

Adab Berhari Raya (Adab Al-'Ied) - 3

Melanjutkan tulisan sebelumnya:

Adab-adab lain terkait hari raya:
  • Tidak menyembelih kurban kecuali setelah Shalat 'Ied
Nabi Sahallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
"Seungguhnya hal pertama yang kita lakukan pada hari ini adalah shalat, kemudian kembali untuk menyembelih. Barang siapa yang telah melakukan itu berarti telah melaksanakan sunnahbkita
Barang siapa menyembelih sebelum shalat maka itu hanya daging untul keluarganya, bukan sembelihan kurban apa pun." 
Hadits ini menunjukkan bahwa disunnahkan tidak menyembelih kurban kecuali setelah selesai shalat.

Rabu, 30 Agustus 2017

Adab Berhari Raya (Adab Al-'Ied) - 2

Melanjutkan tulisan sebelumnya: 'Adab Berhari Raya (Adab Al-'Ied) - 1'.

Beberapa adab lain yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam:

  • Anak-anak juga keluar untuk shalat
Hendaknya anak-anak ikut keluar sehingga mereka juga ikut merasakan kebahagiaan hari raya, bersenang-senang dengan pakaian baru, keluar ke tempat shalat, dan menyaksikan jamaah kaum muslimin walaupun mereka tidak shalat karena masih kecil.

Selasa, 29 Agustus 2017

Adab Berhari Raya (Adab Al-'Ied) - 1

Allah telah menjadikan hari raya bagi umat Islam sebagai hari bergembira ria.
Pada hari itu mereka dapat berkumpul, saling mengunjungi, dan saling bersilaturahim.

Bagi kaum muslimin ada dua hari raya dalam setahun, yaitu 'Iedul Fithri setelah selesai melaksanakan puasa Ramadhan dan 'Iedul Adha yang bertepatan dengan wuquf di 'Arafah.

Beberapa ada berhari raya yang dicontohkan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam diantaranya:


Minggu, 27 Agustus 2017

Khutbah Rasulullah pada Hari Raya Qurban

Dalam tulisan sebelumnya: 'Berhaji Seperti Rasulullah' telah dikisahkan mengenai wuquf, melempar jumrah al-'Aqabah, dan penyembelihan hewan qurban yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

RItual-ritul manasik haji apa lagi yang dilakukan oleh beliau?
Berikut ini lanjutannya ...


Di waktu Dhuha (hari sudah mulai siang) pada hari raya Qurban tanggal 10 Dzulhijjah itu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam berpidato di atas punggung bagal (peranakan kuda dan keledai) berwarna kelabu, sedangkan Ali menjadi penyambung lidahnya dan para jamaah saat itu ada yang berdiri dan ada pula yang duduk. [HR. Abu Daud, bab: Pada waktu apa Rasulullah berkhutbah di hari Nahr (penyembelihan), I/270].

Sabtu, 26 Agustus 2017

Berhaji Seperti Rasulullah

Masih tentang pelaksanaan haji Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, melanjutkan tulisan sebelumnya tentang Khotbah Agung Rasulullah Ketika Haji Wada'.

Seperti apakah pelaksanaan rukun-rukun haji Rasulullah?
Berikut ini lanjutannya ...


Setelah Rasulullah menyampaikan khotbah agungnya Bilal mengumandangkan adzan dan iqamah sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjadi imam shalat Zhuhur bersama seluruh jamaah.
Kemudian Bilal beriqamah lagi dan Rasulullah pun melakukan shalat Ashar.
Beliau tidak melakukan shalat apapun di antara kedua shalat itu.

Selanjutnya beliau menunggangi untanya sampai di tempat wuquf dan menjadikan perut untanya menempel di pasir dan tali kekangnya di depan beliau.