Tampilkan postingan dengan label Umroh / Haji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Umroh / Haji. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Agustus 2017

Khutbah Rasulullah pada Hari Raya Qurban

Dalam tulisan sebelumnya: 'Berhaji Seperti Rasulullah' telah dikisahkan mengenai wuquf, melempar jumrah al-'Aqabah, dan penyembelihan hewan qurban yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

RItual-ritul manasik haji apa lagi yang dilakukan oleh beliau?
Berikut ini lanjutannya ...


Di waktu Dhuha (hari sudah mulai siang) pada hari raya Qurban tanggal 10 Dzulhijjah itu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam berpidato di atas punggung bagal (peranakan kuda dan keledai) berwarna kelabu, sedangkan Ali menjadi penyambung lidahnya dan para jamaah saat itu ada yang berdiri dan ada pula yang duduk. [HR. Abu Daud, bab: Pada waktu apa Rasulullah berkhutbah di hari Nahr (penyembelihan), I/270].

Sabtu, 26 Agustus 2017

Berhaji Seperti Rasulullah

Masih tentang pelaksanaan haji Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, melanjutkan tulisan sebelumnya tentang Khotbah Agung Rasulullah Ketika Haji Wada'.

Seperti apakah pelaksanaan rukun-rukun haji Rasulullah?
Berikut ini lanjutannya ...


Setelah Rasulullah menyampaikan khotbah agungnya Bilal mengumandangkan adzan dan iqamah sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjadi imam shalat Zhuhur bersama seluruh jamaah.
Kemudian Bilal beriqamah lagi dan Rasulullah pun melakukan shalat Ashar.
Beliau tidak melakukan shalat apapun di antara kedua shalat itu.

Selanjutnya beliau menunggangi untanya sampai di tempat wuquf dan menjadikan perut untanya menempel di pasir dan tali kekangnya di depan beliau.

Jumat, 25 Agustus 2017

Khutbah Agung Rasulullah Ketika Haji Wada'

Pada tulisan sebelumnya telah dikisahkan persiapan Rasulullah dan perjalanan beliau menuju ke Makkah untuk menunaikan haji ('Kisah Haji Wada' (Perpisahan) Rasulullah').

Berikut ini lanjutan kisahnya ...

Masjid Namirah
Masjid Namirah di Arafah

Pada hari kedelapan di bulan Dzulhijjah (yaitu hari Tarwiyah), Rasulullah berangkat menuju Mina dan shalat lima waktu (Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya', dan Subuh) di sana.
Pagi harinya beliau menetap sebentar sampai matahari terbit kemudian melanjutkan perjalanan sampai ke Arafah dan menemukan tenda telah terpasang di Namirah.

Kamis, 24 Agustus 2017

Kisah Haji Wada' (Perpisahan) Rasulullah

"Tunaikanlah manasik (haji) kalian sebagaimana aku menunaikannya, barangkali aku tidak akan menunaikan haji lagi setelah tahun ini." (Ssabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam ketika melempar Jumrah Aqabah pada saat pelaksanaan Haji Wada'/perpisahan).
Seperti apakah cara Rasulullah menunaikan ibadah haji?
Berikut kisahnya ...


Jumat, 18 Agustus 2017

Umroh Bersama Komunitas (3)

Masih dari angkasa, di pesawat Saudia, melanjutkan tulisan sebelumnya: 'Umroh Bersama Komunitas (2)' ...

Penerbangan dari Kuala Lumpur ke Jeddah dengan pesawat Saudia (SV) ditempuh selama kurang lebih 9 jam.
Selama itu pula sholat Maghrib dan Isya' kami lakukan di atas pesawat.
Makanan utama dan snack pun silih berganti dihidangkan kepada kami. 

Sekitar tengah malam waktu setempat kami mendarat di 'King Abdulaziz International Airport' (Jeddah).
Di sini kami sempat kaget karena ternyata bagasi kami ikut diturunkan, padahal menurut informasi yang diterima bagasi langsung turun di Madinah.
Ya sudahlah, jadilah kami kembali berolah raga di pagi buta dini hari itu untuk menyeret-nyeret koper 😂.
Mungkin ada hal yang luput pada saat berkoordinasi dengan petugas di bandara.
Wallahu a'lam.

Masjid Nabawi, Madinah Al Munawwarah, difoto dalam penerbangan dari Jeddah ke Madinah

Kamis, 17 Agustus 2017

Umroh Bersama Komunitas (2)

Melanjutkan tulisan sebelumnya: 'Umroh Bersama Komunitas (1)' ...

Penerbangan dengan 'Saudi Arabian Airlines' (Saudia/SV) dijadwalkan berangkat dari 'Kuala Lumpur International Airport' (KLIA) pukul 19.30 dan mendarat di 'King Abdulaziz International Airport' (Jeddah) sekitar tengah malam waktu setempat.
Selanjutnya dari Jeddah kami akan terbang lagi pukul 02.30 menuju 'Prince Mohammed bin Abdulaziz International Airport' di Madinah.


Seperti biasa, kami selalu menyukai pengalaman terbang bersama Saudia (bukan iklan 😉), mungkin karena menu makanannya yang enak-enak dan banyak, atau karena pesawatnya besar dan ada musholanya, atau juga karena perasaan excited karena akan segera menuntaskan rindu untuk berziarah ke dua kota suci, Mekkah dan Madinah.
Wallahu a'lam.

Rabu, 16 Agustus 2017

Umroh Bersama Komunitas (1)

Ini adalah cerita perjalanan kami dari tanah air sampai ke tanah suci pada saat menunaikan Umroh Ramadhan yang lalu (1438 H atau 2017 M).
Seperti yang sudah kami ceritakan sekilas dalam tulisan sebelumnya: 'Semakin Mudah ke Baitullah', kami berangkat bersama rekan-rekan komunitas, yaitu 'Umroh Tiket Murah'.
Perbedaannya bila dibandingkan berangkat dengan biro perjalanan umroh (travel) antara lain adalah pada pembelian tiket, dimana masing-masing anggota melakukan issue tiket beberapa bulan sebelumnya (dengan jadwal yang sudah diinformasikan melalui grup facebook komunitas).



Minggu, 13 Agustus 2017

Madinah, Kota Nabi yang Selalu Dirindukan

Tidaklah pelana itu diikat –yaitu tidak boleh bersengaja melakukan perjalanan (dalam rangka ibadah ke suatu tempat)- kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, masjid Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan masjidil Aqsho" (HR. Bukhari No. 1189 dan Muslim No. 1397).
Entah kenapa, rasanya tak bosan-bosannya kami berkisah tentang perjalanan ke Mekkah dan Madinah.
Semakin diceritakan, semakin membuncah pula rindu di dada ini untuk selalu kembali dan kembali lagi ke sana.

Dari beberapa kali perjalanan umroh, kami amati bahwa begitu pesat pembangunan di tanah suci dan begitu banyak perubahan yang terjadi setiap kali kami kembali.
Pada kesempatan Umroh Ramadhan 1438 H (2017 M) yang lalu kami bahkan sudah mulai terkesima sejak mendarat di Prince Mohammed bin Abdulaziz Int. Airport di Madinah.
Bandaranya tampak jauh lebih megah dibandingkan ketika kami berumroh pada Bulan Ramadhan dua tahun yang lalu.


Sabtu, 12 Agustus 2017

Pengalaman Tak Terlupakan di Tanah Suci (2)

Banyak sekali kisah-kisah keajaiban yang dialami para jamaah umroh maupun haji di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Ada kisah suka, dan banyak pula kisah duka.
Kami pun pernah mengalaminya dan ingin membagikannya kepada sahabat semua agar kita dapat bersama-sama mengambil hikmah di balik peristiwa-peristiwa tersebut.
Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya: 'Pengalaman Tak Terlupakan di Tanah Suci (1)' yang menceritakan beberapa kisah tak terlupakan yang kami alami di area Masjidil Haram.
Pada tulisan ini kami akan membagikan beberapa pengalaman di tempat lain, pada saat beribadah umroh.
Masjid Nabawi
Masjid Nabawi

Jumat, 11 Agustus 2017

Pengalaman Tak Terlupakan di Tanah Suci (1)

Bersafar ke tanah suci adalah perjalanan yang dirindukan oleh kaum muslimin di seluruh dunia, baik untuk berumroh apalagi berhaji.
Demikian pula bagi kami (saya dan suami).
Dalam setiap kesempatan beribadah ke tanah suci baik untuk menunaikan ibadah haji maupun umroh, berbagai pengalaman berbeda kami alami di sana.
Berikut ini beberapa diantaranya.

Masjidil Haram
Interior Masjidil Haram

Jumat, 04 Agustus 2017

Tempat-tempat Mustajab untuk Berdoa di Masjidil Haram

"Titip doa ya."
"Panggil namaku ya."
"Doakan kami ya."

Itu adalah ucapan-ucapan yang sering disampaikan oleh kerabat dan rekan-rekan bila kita akan berangkat ke tanah suci, baik untuk menunaikan ibadah haji maupun umroh.

Tak heran bila banyak orang yang ingin didoakan di sana, karena ada tempat-tempat tertentu yang mustajab untuk berdoa.

Di Masjid Nabawi, ada Raudhah (sudah pernah dibahas dalam tulisan sebelumnya: Mereguk Nikmat Ramadhan di Tanah Suci (2)).

Di Masjidil Haram, ada beberapa tempat mustajab untuk berdoa, diantaranya:


Masjidil Haram

Kamis, 03 Agustus 2017

Semakin Mudah ke Baitullah

Ka'bah.
Masjidil Haram.
Masjid Nabawi.
Mekkah.
Madinah.

Masjid Nabawi

Tempat-tempat yang tentunya sangat dirindukan oleh kaum muslimin di seluruh dunia.
Siapa yang tak ingin melihat langsung Ka'bah yang selama ini menjadi kiblat sholatnya?
Menyentuhnya, berdoa di tempat-tempat mustajab di sana.
Atau mendirikan sholat berjama'ah yang diimami oleh imam-imam besar yang selama ini hanya bisa didengar suaranya melalui audio?
Atau berkunjung ke makam Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, insan mulia yang begitu besar cintanya kepada kita para pengikutnya?
Juga berziarah ke tempat-tempat yang menyimpan sejarah mendalam tentang perjuangan da'wah beliau?
Serta bersafar ke tempat-tempat suci yang tertulis dalam Al Qur'an, kalam Allah yang kita pedomani sampai akhir zaman?

Kamis, 06 Agustus 2015

Mereguk Nikmat Ramadhan di Tanah Suci (2)

Entah kenapa, meskipun bukan yang pertama kali melaksanakan ibadah Ramadhan di Tanah Suci, namun keinginan untuk kembali dan kembali lagi ke sana justru semakin menguat.

Seperti yang saya tulis pada bagian pertama tulisan ini: "Mereguk Nikmat Ramadhan di Tanah Suci (1)", selain keutamaan ibadah umrah di Bulan Ramadhan yang membuatnya istimewa, keutamaan Bulan Ramadhan itu sendiri pun memberikan makna yang teramat dalam bagi kami.

Diantara keutamaan Bulan Ramadhan adalah:
  • Disyariatkannya I’tikaf
Anas Radhiallahu 'Anhu berkata: "Adalah Nabi Shallallahu 'Alayhi wa Sallam beri’tikaf pada 10 hari terakhir dari bulan Ramadhan, sampai beliau wafat, kemudian istri–istri beliau pun beri’tikaf setelahnya " (diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).


Suasana i'tikaf 10 malam terakhir Bulan Ramadhan
Suasana i'tikaf 10 malam terakhir Bulan Ramadhan (sumber: grup WA)
Semakin mendekati hari-hari terakhir Bulan Ramadhan, terutama pada sepuluh malam terakhirnya, suasana di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi akan semakin penuh sesak oleh jama'ah yang ingin melaksanakan i'tikaf, menanti turunnya Lailatul Qadr, malam yang kemuliaannya lebih baik dari seribu bulan. Masya Allah.
Malu rasanya, melihat kondisi di sana dan membandingkannya dengan kondisi kebanyakan masjid-masjid kita di malam-malam terakhir Ramadhan, jama'ahnya semakin sedikit. Seringkali kita lebih disibukkan dengan urusan mudik dan persiapan Lebaran (belanja baju baru, membuat kue-kue, memasak makanan istimewa, ...).

Selasa, 04 Agustus 2015

Mereguk Nikmat Ramadhan di Tanah Suci (1)

Berkesempatan menjalankan ibadah pada Bulan Ramadhan di Tanah Suci (Mekkah dan Madinah) adalah hal yang sangat istimewa dan selalu kami tunggu-tunggu. Setiap kesempatan berada di sana selalu memberikan pengalaman dan cerita yang berbeda.

Mengapa istimewa?    

Rasulullah Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam sendiri pernah bersabda:
Sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan seperti berhaji bersamaku” (HR. Bukhari no.1863).
Bayangkan, sahabat, berhaji saja sudah sedemikian besar keutamaan dan pahalanya, apalagi berhaji bersama Rasulullah. Masya Allah, siapa yang tak ingin merasakannya?   
Maka tak heran bila pada Bulan Ramadhan Masjid Nabawi dan Masjidil Haram selalu penuh sesak dan semakin sesak pada sepuluh malam terakhirnya (sangat kontras dengan kondisi kebanyakan masjid-masjid kita ya ...).
Sesaknya kedua masjid ini adalah sesak yang berbeda, karena membawa nikmat. Meskipun dengan kondisi berjubel-jubel, seluruh jama'ah tetap dapat melaksanakan ibadah dengan baik dan khusyu'.


Masjidil Haram

Bulan Ramadhan sendiri memiliki banyak keutamaan, diantaranya:
  • Bulan diturunkannya Al Qur’an
"Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil) ..." (Surat Al Baqarah: 185).
Dalam Kitab Shahih Al Bukhari diriwayatkan bahwa tatkala usia Rasulullah mendekati 40 tahun beliau mulai suka mengasingkan diri. Beliau biasa membawa roti yang terbuat dari gandum dan bekal air menuju Gua Hira' yang terletak di Jabal Nur, yaitu sejauh hampir 2 mil dari Mekkah.


Jabal Nur (Gua Hira')

Ketika pengasingannya (uzlah) di Gua Hira' memasuki tahun ketiga, tepatnya di Bulan Ramadhan, Allah menghendaki rahmat-Nya terlimpahkan kepada segenap penduduk bumi, lalu dimuliakanlah beliau dengan mengangkatnya sebagai nabi, lalu Jibril turun kepadanya dengan membawa beberapa ayat Al Qur'an.

  • Diwajibkan berpuasa pada bulan ini
Meskipun sedang dalam kondisi bersafar, sebagian besar jama'ah memilih untuk tetap berpuasa.
Melaksanakan puasa dengan kondisi temperatur yang sangat panas (berkisar antara 40-50 derajat Celcius) dan waktu siang yang lebih lama memberikan pengalaman tersendiri yang tak mungkin terlupakan.
Benar-benar ujian fisik (dan mental) bagi kita yang berasal dari negara dengan iklim yang relatif lebih 'bersahabat'.
Namun, semua kesulitan seakan sirna pada saat berbuka puasa.
Nikmatnya tiada terkira ...

Kamis, 30 Juli 2015

Merenda Cinta dan Rindu di Museum Nabi Muhammad

Kenangan.

Tentu kita semua sepakat bahwa kata di atas berkorelasi dengan segala hal (terutama yang indah-indah) yang pernah kita alami di masa lalu.

Tapi pernahkah kita seolah-olah memiliki/merasakan kenangan akan sesuatu/seseorang padahal kita belum pernah mengalami atau bertemu dengannya?

Itulah yang saya rasakan pada saat berada di Museum Nabi Muhammad di Madinah, museum yang terletak tepat di sebelah kanan (bila kita masuk dari arah depan) Masjid Nabawi, bersebelahan dengan Museum Asma'ul Husna.

Meskipun di dalamnya tidak terdapat benda-benda peninggalan Rasulullah (pedang, pakaian perang, bekas tapak kaki, rambut jenggot, rambut kumis, dan sebagainya) seperti di beberapa museum yang lain, namun museum/galeri ini terasa sangat istimewa.
Begitu masuk ke dalamnya seakan-akan kita dibawa menjelajah ke zaman dan tempat dimana Rasulullah berada bersama para sahabat dan keluarga beliau.

Rahmat Bagi Seluruh Alam

Penggambaran yang sangat detail berdasarkan ayat-ayat Al Qur'an dan hadits yang terpampang di seluruh dinding, tiang-tiang, layar, disertai beberapa replika, membuat kita benar-benar merasa menjadi bagian dari masa itu dan mengalami saat-saat indah bersama Rasulullah, insan mulia, rahmat bagi semesta alam;


Rasulullah - Rahmat Bagi Seluruh Alam
"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam" (Surat Al-Anbiya': 107)