Pada tulisan sebelumnya: 'Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 8' telah dibahas mengenai doa dan dzikir ketika bersafar.
Selanjutnya pada tulisan ini akan dijelaskan mengenai beristirahat dalam melakukan safar.
- Istirahat di tengah perjalanan
Hendaknya musafir beristirahat di tengah perjalanan, terlebih bila jarak safarnya sangat jauh. Oleh karenanya setiap kali ada kesempatan hendaklah mereka berhenti, mengistirahatkan kendaraan, mobil, atau tunggangannya. Ketika beristirahat, mereka menyiapkan hal-hal yang perlu disiapkan (bahan bakar, air, dan lain-lain), atau memberikan makanan untuk hewan tunggangan, juga mengistirahatkan badan, menunaikan hajat, mencicipi hidangan makanan, minuman, dan sejenisnya.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
"Apabila kalian tengah melintasi tanah yang subur, maka berilah bagian kepada unta tunggangan untuk makan dari rumputnya ..."
Hendaknya kita memperhatikan adab-adab ini agar alat transportasi yang digunakan bisa melewati berbagai kesulitan dalam safar.
Para musafir hendaknya juga tidur bila mampu. Sebab, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersafar lalu singgah pada malam hari, maka beliau pun berbaring di atas sisi kanan beliau. Sementara apabila singgah menjelang shubuh beliau menegakkan lengan dan meletakkan kepala beliau di atas punggung telapak tangan beliau." (HR. Muslim [683] dari Anas Radhiyallahu 'anhu).
Dalam hadits ini terdapat dalil dianjurkannya tidur untuk istirahat, bahkan dijelaskan pula tata cara tidur yang dianjurkan.