Minggu, 13 Agustus 2017

Madinah, Kota Nabi yang Selalu Dirindukan

Tidaklah pelana itu diikat –yaitu tidak boleh bersengaja melakukan perjalanan (dalam rangka ibadah ke suatu tempat)- kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, masjid Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan masjidil Aqsho" (HR. Bukhari No. 1189 dan Muslim No. 1397).
Entah kenapa, rasanya tak bosan-bosannya kami berkisah tentang perjalanan ke Mekkah dan Madinah.
Semakin diceritakan, semakin membuncah pula rindu di dada ini untuk selalu kembali dan kembali lagi ke sana.

Dari beberapa kali perjalanan umroh, kami amati bahwa begitu pesat pembangunan di tanah suci dan begitu banyak perubahan yang terjadi setiap kali kami kembali.
Pada kesempatan Umroh Ramadhan 1438 H (2017 M) yang lalu kami bahkan sudah mulai terkesima sejak mendarat di Prince Mohammed bin Abdulaziz Int. Airport di Madinah.
Bandaranya tampak jauh lebih megah dibandingkan ketika kami berumroh pada Bulan Ramadhan dua tahun yang lalu.


Kami berkesempatan mendirikan sholat Subuh berjamaah di masjid yang ada di Bandara ini.
Masjidnya pun tak kalah megah dengan bandaranya.


Perjalanan menuju penginapan yang berlokasi di dekat Masjid Nabawi cukup lancar, mungkin pada pagi hari belum banyak aktifitas yang dilakukan oleh para warganya.
Jalan raya yang sangat mulus pun mendukung lancarnya perjalanan kami.


Sampai di penginapan yang letaknya persis di depan gate nomor 17 Masjid Nabawi kami pun segera membereskan barang bawaan dan membersihkan badan sebagai persiapan untuk beribadah di Masjid Nabawi.

Memasuki pelataran Masjid Nabawi, seketika kerinduan itu semakin menyeruak.
Rindu akan sosok Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, insan mulia yang sangat mencintai kita umatnya, yang bahkan masih mengingat kita sampai akhir hayat beliau.


Payung-payung raksasa yang menanungi pelataran masjid menambah teduh suasana di pagi hari itu.


Tujuan kami adalah menunaikan sholat Dhuha dan sholat serta berdoa di Raudhah (bagi jamaah perempuan di Bulan Ramadhan Raudhah dibuka pagi hari setelah waktu Dhuha dan malam hari setelah sholat Tarawih).

Setelah berpisah dengan suami memasuki pintu masing-masing saya pun sendirian menuju Raudhah, bergabung bersama antrian jamaah Indonesia lainnya yang akan memasuki Raudhah.

Di sini memang diperlukan kesabaran untuk menunggu karena banyaknya jamaah yang ingin masuk ke taman surga ini.
Raudhah adalah salah satu tempat mustajab untuk berdoa, sehingga tak heran bila banyak sekali jamaah yang ingin berdoa dan sholat di dalamnya.
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id dari Malik bin Anas sebagaimana yang telah dibacakan kepadanya, dari Abdullah bin Abu Bakr dari Abbad bin Tamim dari Abdullah bin Zaid Al Mazini bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tempat antara rumahku dan minbarku adalah satu taman dari taman-taman surga."(HR. Muslim No. 2463)

Telah menceritakan kepada kami Musaddad dari Yahya dari 'Ubaidullah bin 'Umar berkata, telah menceritakan kepada saya Khubaib bin 'Abdurrahman dari Hafsh bin 'Ashim dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Diantara rumahku dan mimbarku adalah raudhah (taman) diantara taman-taman surga dan mimbarku berada pada telagaku (di surga).
(HR. Bukhari No. 1755)
Setelah menunggu beberapa saat kami pun mendapat giliran masuk.
Alhamdulillah Allah berikan kemudahan untuk dapat berdoa di sana.

Tak terasa sudah sekitar satu jam saya berada di area Raudhah.
Jamaah tampak sudah mulai sepi dan para askar sudah lebih santai menjaga kami.
Saya pun segera beranjak keluar sambil terus berdoa agar Allah mudahkan kembali ke sana.
Aamiin Yaa Robbal 'Aalamiin.

***


***
#ODOP
#ODOP13
#BloggerMuslimahIndonesia




Related Posts:




1 komentar:

  1. Masya Allah, sukaaa sekali melihat pemandangan madinah yang teduh.. ^^

    BalasHapus