Kamis, 19 Oktober 2017

Simpang Lima, Landmark Kota Semarang

Simpang Lima merupakan salah satu landmark kota Semarang sejak dulu.
Wujudnya adalah ruang terbuka berupa sebuah lapangan (yang sebenarnya bernama Lapangan Pancasila) di pusat kota Semarang dan menjadi pusat pertemuan dari  lima jalan, yaitu Jl. Pahlawan, Jl. Pandanaran, Jl. Gadjah Mada, Jl. Ahmad Dahlan, serta Jl. Ahmad Yani.

Lapangan Simpang Lima Semarang

Dulu, Simpang Lima dijadikan sebagai pusat alun-alun berdasarkan usulan Presiden pertama RI (Ir. Soekarno) karena pusat alun-alun yang awalnya terletak di Kauman telah berubah fungsinya menjadi pusat perbelanjaan.

Pada saat pembangunan lapangan Pancasila, saat itu pembangunannya akan dilakukan di Jl. Oei Tiong Ham (Jl. Pahlawan sekarang).
Kemudian lapangan ini bisa terbangun pada tahun 1969.
Karena lapangan Pancasila merupakan pusat bertemunya lima jalan besar, maka lebih dikenal dengan nama Simpang Lima.

Simpang Lima tahun '70an (Sumber gambar: kotakusemarang.blogspot.co.id)
Semasa saya kecil, di sekeliling lapangan belum banyak hotel dan mal seperti sekarang ini.
Yang saya ingat saat itu, ada Masjid Baiturrahman (masih ada sampai sekarang), Gedung Olah Raga/GOR (sekarang menjadi hotel dan mal Ciputra), ada juga gedung bioskop lama-kalau tidak salah (lupa namanya) yang sekarang sudah digantikan oleh bioskop-bioskop modern.

Masjid Baiturrahman (difoto dari Hotel Ciputra)
Saat ini Simpang Lima menjadi pusat keramaian hampir sepanjang waktu.
Deretan hotel megah menjulang di sekelilingnya, sebut saja Hotel Ciputra, Hotel Santika, Hotel Lous Kienne, Hotel Horison, Hotel @Hom, dan banyak lagi lainnya.
Tak terhitung pula mal-mal yang berlomba-lomba menarik pengunjung dengan aneka tampilan atraktifnya.
Yang tak boleh dilewatkan juga adalah deretan tenda kuliner yang didirikan di sekeliling Simpang Lima, dengan aneka rupa jenis makanan yang cukup lengkap dan dengan harga yang -maaf- tak terlalu murah.

Di hari Ahad pagi kawasan SImpang Lima dijadikan ajang Car Free Day (CFD) bagi warga Semarang dan siapa pun yang ingin bersantai.
Otomatis jalan-jalan yang menuju ke lapangan ini pun ditutup sementara untuk kendaraan bermotor.
Satu hal yang menarik bagi saya di CFD Semarang ini, pak polisi yang mengamankan area Simpang Lima pun mengendarai 'kendaraan' tak bermotor, yaitu kuda (dan ada juga yang bersepeda!).
Unik ya 😄.


Di malam hari (yang saya tahu di akhir pekan) Simpang Lima tak kalah meriahnya dengan adanya berbagai model sepeda/becak berlampu yang disewakan kepada pengunjung untuk dikayuh mengelilingi lapangan (yang ini mirip dengan yang ada di alun-alun Yogyakarta).

Oh ya, sekali waktu saya pernah melihat karnaval anak-anak yang lewat di seputar Simpang Lima. Yang hebat, marching band pengawalnya -kalau tidak salah lihat- adalah dari Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang yang keren punya.


Sejak kecil saya ngefans banget dengan marching band Akpol ini, terutama dengan penabuh  bass drum-nya yang berkostum macan tutul.  Cadas!!
Lucunya, berhubung saat itu yang dikawal adalah anak-anak TK/SD, maka kostum binatangnya pun disesuaikan menjadi karakter hewan yang lebih fun dan tidak terkesan sangar. He he he ...


Tapi over all atraksinya tetap memukau, termasuk mayorette-nya yang dengan suka rela berpose untuk difoto 😉.


Balik lagi bicara tentang kuliner, favorit saya adalah nasi ayam (lesehan) di pojok depan Matahari Mal (sebelah pos polisi) yang selalu ramai di pagi hari (dan malam hari).

Nasi ayam
Pedagang nasi ayam
Ada juga pecel 'Mbok Sador' yang sekarang berlokasi di tenda kuliner di ujung Jl. Pahlawan (depan E-Plaza).
Ini adalah pecel legendaris sejak lama. Seingat saya dulu si Mbok membuka dagangan berupa warung lesehan (yang gelap remang-remang kalau malam) di depan STO Telkom di pojokan Jl. Pahlawan itu.
Sekarang display-nya sudah bagus di warung tenda bersama yang (mungkin) difasilitasi oleh Pemkot, lauk pauknya bermacam-macam, dan masih tetap laris seperti dulu.

Bila ingin bersantap dengan harga bersahabat, deretan warung d depan Masjid Baiturrahman dan di Jl. Ahmad Dahlan bisa menjadi pilihan. Menunya pun beragam, baik makanan tradisional maupun modern, mulai dari wedang ronde, nasi kucing, jagung bakar, tahu gimbal, roti bakar, mi instan, dan sebagainya.

Untuk penginapan, beberapa hotel yang sudah pernah saya coba antara lain Hotel Ciputra (bintang lima)-sangat direkomendasikan, Hotel Horison (bintang empat)-juga direkomendasikan, dan Hotel @Hom (bintang tiga, di Jl. Pandanaran)-cukup layak dicoba. 

Hotel Ciputra
Secara keseluruhan saat ini Lapangan Simpang Lima cukup layak untuk beraktivitas terutama berolah raga ringan di pagi hari.
Di sini sudah disediakan beberapa sarana seperti track lari sederhana, area berbatu-batu kecil untuk refleksi ringan, ring basket, dan sedikit sarana permainan anak (play ground).


Tersedia juga bangku-bangku artistik di sekeliling lapangan untuk beristirahat.

 

Untuk menambah estetika ditanamlah beraneka bunga dan tanaman cantik yang -sepertinya- perlu dirawat dengan lebih serius (begitu pula dengan toilet umumnya) 😉.



Jadi, kapan ke Simpang Lima? 😉

***

Referensi:

***

#ODOPOKT15
#BloggerMuslimahIndonesia







Related Posts:




4 komentar:

  1. Keren Simpang Lima...CFD nya naik kuda polisinya..
    Itu nasi ayam kok menggoda banget si Mbak..
    Aku pernah dua kali nginap di Horison..main ke Semarang dan sekitarnya. Semoga pas mudik nanti bisa singgah lagi:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lho mba Dian dari Semarang juga?
      Waahh asiikk ... 😉
      Iya mba nasi ayam emang ga boleh dilewatkan kalo ke sana.
      Apalagi nginepnya di Horison, tinggal turun lift trus keluar pager hotel deh.
      Deket bangeettt ... 😄

      Hapus