Kamis, 30 November 2017

Menjadi Sebaik-baik Perhiasan Dunia

"Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'." (QS. Ibrahim: 7)
 
Bersyukur.

Inilah key word yang harus kita ingat dan amalkan selalu, selama hayat masih dikandung badan.
Allah sendiri yang menjanjikan kepada kita dalam ayat di atas, bahwa jika kita bersyukur maka nikmat-Nya akan semakin ditambah, dan sebaliknya, bila kita ingkar maka azab Allah sangatlah pedih.

Menjadi muslimah, adalah salah satu nikmat yang wajib kita syukuri.
Sebagaimana kita tahu, wanita sangat dimuliakan kedudukannya dalam Islam, dan sudah selayaknya kita menjaga dengan baik kemuliaan ini.

Selasa, 31 Oktober 2017

Adab Berjalan - 3

Pada tulisan sebelumnya, 'Adab Berjalan - 2' telah dijelaskan hal-hal terkait postur tubuh pada saat berjalan.
Berikut ini adalah bagian terakhir yang membahas tentang adab-adab berjalan yang lainnya.


  • Menghindari cara berjalan yang tercela 
Diantara cara jalan yang tercela:
    • Berjalan dengan sombong dan takabur. Ini adalah cara jalan orang sombong dan ujub terhadap diri sendiri.
    • Berjalan dengan gelisah dan gemetar, yaitu dengan menoleh ke kanan, ke kiri, dan ke belakang. Ini adalah cara jalan orang yang goncang akalnya.
    • Berjalan dengan loyo seperti orang sakit. Ini adalah cara berjalan yang buruk.
    • Berjalan dengan berlenggak lenggpk disertai gerakan lemah gemulai sehingga meniru lawan jenisnya (kaum wanita).
    • Berjalan terburu-buru dan terlalu cepat seperti seperti berlari tanpa hajat dan keperluan.
    • Berjalan terburu-buru dan terlalu cepat seperti berlari tanpa hajat dan keperluan.
    • Berjalan seakan-akan melompat.

Adab Berjalan - 2

Bersikap tawadhu' dan meninggalkan sikap sombong adalah salah satu adab yang harus dimiliki oleh seorang seorang muslim, termasuk dalam berjalan.
Hal ini telah dijelaskan dalam tulisan sebelumnya, 'Adab Berjalan - 1'.
Berikut ini akan dibahas adab-adab berjalan yang lainnya:


  • Berjalan normal
Yang dimaksud berjalan normal adalah pertengahan, antara berjalan terlalu lambat dan terlalu cepat.
Allah berfirman:
"... Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS. Luqman: 18).
Ibnu Katsir berkata, "Maksudnya, berjalan biasa saja, tidak terlalu lambat dan tidak terlalu cepat. Namun, pertengahan di antara keduanya." (Tafsir Ibnu Katsir [III/585]).

Senin, 30 Oktober 2017

Adab Berjalan - 1

Berjalan adalah aktivitas yang (hampir) selalu kita lakukan.
Bila seseorang berjalan di jalan untuk suatu urusan, hendaknya ia menjaga adab-adab khususnya yang berkaitan dengan berjalan, diantaranya:


  • Niat yang benar
Hendaknya seseorang menghadirkan niat yang benar ketika berjalan. Jika seseorang berjalan untuk menziarahi sahabatnya, hendaklah ia meniatkannya untuk mencari ridha Allah Ta'ala dalam ziarah tersebut. Bila berjalan ke masjid, hendaknya menghadirkan niat untuk beribadah kepada Allah Ta'ala. Jika keluar bekerja, hendaknya ia berniat untuk mencari rizqi dan penghidupan bagi keluarganya. Bila berjalan untuk suatu permainan yang diperbolehkan, hendaknya meniatkan untuk mencari penyegaran agar jiwa kembali segar dan bersemangat dalam beribadah dan lain-lain.

Minggu, 29 Oktober 2017

Review Hotel Horison Semarang

Ini adalah kali kedua saya menginap di Hotel Horison Simpang Lima Semarang.
Hotel berbinrang empat yang lokasinya sangat strategis, di pusat kota Semarang yaitu di Simpang Lima.
Ada beberapa tipe kamar yang ditawarkan, yaitu Deluxe, Superior, dan Suite dengan pilihan kasur twin atau double dan ukuran kamar yang cukup lega.
Harga yang ditawarkan pun cukup terjangkau.

Sumber gambar: Traveloka

Jumat, 27 Oktober 2017

Mensyukuri Proses

Kata orang, saat ini, jaman now, adalah zaman instan.
Semua serba instan, dari makanan sampai cita-cita, inginnya yang instan-instan.
Makan mi, tinggal rebus air, ambil mi instan yang sudah dikemas bersama bumbu-bumbunya, trus cemplung-cemplung.
Bikin kopi, tinggal ambil kopi sachet-an 3 in 1, seduh dengan air panas.
Mau dapat nilai bagus dalam ujian, tinggal cari makelar soal dan jawaban, bayar senilai sekian, hafalkan jawabannya. Ssttt ... jangan ditiru!!
Pengen kaya, tinggal tipu sana-sini. #ehh ... nggak boleh ya 😂.
Ingin masuk surga, tapi di dunia maunya foya-foya penuh maksiat. Jlebb!!

Sebenarnya hal itu adalah tanggung jawab dari masing-masing individu, ingin mencari jalan pintas (yang belum tentu halal dan thayib) atau melalui (dan menikmati) proses (yang belum tentu cepat) untuk mencapai tujuannya.
Semuanya akan dihisab di akhirat kelak.


Demikian juga dengan menulis.
Perlu proses untuk meningkatkan skill menulis kita (ini yang saya alami dan rasakan).
Mungkin proses yang dilalui masing-masing orang belum tentu sama, ada yang cepat dan ada pula yang agak lama (kelihatannya saya termasuk kategori yang kedua. Ha ha ha ... 😂😂).

Tahun 2012 yang lalu saya pernah menulis tentang proses terbitnya buku solo pertama saya, "Edelweiss Terakhir" di sini: "My First Book: 'Edelweiss Terakhir' - A Long Process". Dari judulnya aja sudah kebayang lamanya 'kan ya?

Kamis, 26 Oktober 2017

Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 12

Bersafar merupakan bagian dari adzab sebagaimana telah diuraikan dalam tulisan sebelumnya: 'Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 11'.
Pada tulisan ini yang merupakan bagian terakhir dari adab-adab di dalam perjalanan, akan dibahas mengenai kepulangan seorang musafir setelah bersafar.


  • Mengabarkan kepada keluarga tentang kepulangannya

Hendaknya seorang musafir memberi kabar baik dengan surat, melalui telepon, atau lainnya, bahwa ia sedang dalam perjalanan atau pulang pada hari ini atau saat ini, sehingga keluarganya dapat membuat persiapan untuk menyambutnya dan menyiapkan diri untuk itu.

Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam berkata kepada Sahabatnya sekembalinya dari safar:

Rabu, 25 Oktober 2017

Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 11

Rasulullah menganjurkan kita untuk bersafar pada malam hari. Mengapa?
Hal ini telah dibahas dalam tulisan sebelumnya: 'Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 10'.
Berikut ini akan dibahas adab-adab bersafar yang lainnya:

  • Menjauhkan diri dari perbuatan maksiat
Meninggalkan perbuatan maksiat (yang besar maupun kecil) wajib hukumnya setiap waktu. Hanya saja, musafir kadang kala dibujuk dan dirayu oleh syaitan untuk jatuh ke dalam perbuatan maksiat, bahkan syaitan menggambarkan indahnya perbuatan maksiat itu kepadanya. Terlebih lagi di tempat di mana tak seorang pun dapat mengenalinya. Syaitan akan terus merayunya agar jatuh dalam perkara yang buruk.
Berapa banyak wanita-wanita yang menjaga hijab (jilbab) dan menutup aurat di negerinya, namun ketika keluar dari negerinya ia membuka hijab dan menampakkan aurat tubuhnya, bahkan berani berbuat maksiat.
Berapa banyak laki-laki yang keluar dari tempat tinggalnya lalu mendatangi tempat-tempat munkar, memakai pakaian orang-orang fasik, serta menghabiskan harta dan waktunya untuk bermaksiat kepada Allah.

Selasa, 24 Oktober 2017

Keindahan Pasir TImbul di Raja Ampat

Raja Ampat di Papua Barat menyimpan berjuta keelokan yang rasanya tak akan habis diceritakan.
Beberapa tulisan kami sebelumnya telah berkisah tentang cantiknya Raja Ampat:


Kali ini kita akan menjelajah ke sebuah tempat yang tak kalah cantiknya di sana, yang dikenal dengan Pasir Timbul di Pulau Mansuar, Raja Ampat.
Pasir Timbul sebenarnya adalah hamparan pasir putih yang membentuk pulau di tengah lautan di Raja Ampat.
Bila air laut sedang pasang pulau ini tidak akan nampak, sebaliknya bila air laut surut maka ia akan terlihat (timbul).

Biasanya sang pasir akan timbul sekitar pagi hari mulai jam 06.00 dan juga sore hari.
Setelah puas ber-snorkeling di Yenbuba, rombongan kami pun langsung menuju ke Pasir Timbul menjelang sore hari dengan perkiraan pada saat itu air laut sedang surut.

Senin, 23 Oktober 2017

Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 10

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya: 'Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 9' yang membahas tentang beristirahat di tengah perjalanan (safar).
Berikut ini akan diuraikan mengenai keutamaan bersafar pada malam hari.



  • Menjadikan waktu safar banyak dilakukan pada malam hari
Jika memungkinkan dan seseorang bisa mengendalikan alat transportasi yang dikendarai tanpa menimbulkan mudharat baginya, maka bersafar pada malam hari adalah baik.
Namun apabila ada mudharat dan kesulitan, misalnya lemah pandangan sehingga tidak mampu menyetir pada malam hari atau terikat safar dalam alat transportasi umum sehingga tidak mampu meninggalkannya, maka janganlah menyusahkan diri sendiri.
Sebaiknya, jika safar itu memungkinkan baginya, maka sesungguhnya safar pada malam hari itu lebih ringan daripada siang hari.