Katanya,
malam ini malam tahun baru.
Katanya, harus dirayakan dengan membakar petasan dan kembang api di sana sini,
konser musik di mana-mana, suara terompet bersahut-sahutan, konvoi kendaraan
bermotor di seluruh kota, dan berbagai kegaduhan lainnya.
Kataku,
malam ini tidak ada yang istimewa (sinis ya? biarin! hehehe…)
Kataku, setiap malam -yang berarti menuju pergantian hari- adalah persiapan
untuk esok yang harus lebih baik, supaya kita tidak menjadi orang yang merugi
atau bahkan celaka.
Dulu, saat
masih menjadi karyawan di sebuah perusahaan besar, pergantian tahun masehi sama
artinya dengan kesibukan “menghitung” nilai kinerja pada tahun yang akan
berlalu dan menyusun target untuk tahun berikutnya, -tentu saja- target dan
angka-angka itu sudah di-”drop” dari atas.
Awal tahun ini, 2012, aku merasakan untuk pertama kalinya menyusun target
(istilah anak sekarang: RESOLUSI) untuk unit usaha milik sendiri.
Ahaaa… sounds good yah
.
Meski belum seluruhnya berbentuk kuantitatif, ternyata pencapaiannya nggak
jelek-jelek amat kok.
Dari lima kategori besar target untuk Divisi Profit, empat
tercapai dan satu tidak dilanjutkan karena sudah tidak relevan lagi.
Namun, sebagai gantinya, ada beberapa pencapaian yang sangat patut disyukuri,
antara lain terbitnya buku pertamaku dan terpilihnya salah satu
tulisanku sebagai nominator dalam sebuah event.
Selain itu, di tahun 2012 ini banyak kesempatan yang kuperoleh untuk bertemu
para penulis hebat ataupun bersepakat untuk bekerjasama dalam suatu event dan
langsung bertukar buku dengan mereka.
Sedangkan
untuk pencapaian dari Divisi Non Profit, dari tiga bidang besar yang
dikelola ternyata dua
bidang jauh melampaui target yang ditetapkan, sedangkan satu bidang yang lain
masih “so… so…” saja, alias hampir tidak ada peningkatan. Hiks…
Sedikit dokumentasi kegiatan untuk divisi non profit ada di beberapa tulisan
berikut:
* Selalu Ada Kesempatan
* Ke
Ujung Utara Bekasi
* Untuk Sahabat
Lantas,
bagaimana selanjutnya?
Tanpa bermaksud riya’, tentu saja harus ada pelajaran dan hikmah yang bisa
diambil, bahwa:
Memang,
euforia “pindah kuadran” dari karyawan menjadi business owner sempat
membuatku sedikit “kalap” dengan berusaha menyabet sebanyak mungkin
peluang yang lewat di depan mata.
Namun seiring berjalannya waktu dan bertambahnya kematangan berpikir, satu per
satu peluang itu akhirnya tersusun sesuai tingkat prioritasnya dan sebagian
lagi tereliminasi. Saat ini hanya ada sedikit unit usaha yang langsung
kutangani sehingga bisa lebih fokus.
Yang lainnya?
Hmm… serahkan saja pada ahlinya, misalnya melalui sistem konsinyasi,
distributor, keagenan, reseller, dan sejenisnya. Dan ternyata dengan
sistem-sistem ini selain menghemat banyak resources kita juga punya
kesempatan berbagi rizqi dengan banyak pihak.
- Penting untuk mencari teman
yang “sejalan”
Rasanya
sudah cukup jelas bahwa kalau kita memiliki visi akan sesuatu hal, tentu saja
akan lebih mudah mencapainya bila kita bergerak bersama-sama dengan mereka yang
bervisi sama.
Namun, adakalanya, meskipun kita sudah berada dalam barisan yang sama, belum
tentu semuanya memiliki visi yang sama. Oleh karenanya kita harus pandai-pandai
memilih kawan seperjuangan, yang bisa saling memperkuat dan bukan justru
melemahkan satu sama lain (jadi ingat tagline andalan dari seorang
sahabat hebat akhir-akhir ini: “Bersama kita bisa dan kuat”).
Bisa
dimaknai sebagai suatu keinginan atau kecenderungan yang sangat besar terhadap
sesuatu.
Ini adalah alasan yang kukemukakan terhadap mantan atasan di tempat bekerja
dulu pada saat mengajukan permohonan pensiun dini.
Meskipun kondisi di tempat bekerja dan karirku sebenarnya baik-baik saja,
tetapi passion yang berada jauh di luar sana membuat sebagian besar
pikiran dan energi tersita untuk hal-hal di luar pekerjaan kantor.
Tentu saja hal ini sangat tidak nyaman.
Dan setelah berada di luar sini, ketakutan yang selalu digembar-gemborkan orang
bahwa “sulit untuk keluar dari zona nyaman” sama sekali tidak terbukti.
Memang benar aku keluar dari zona nyaman, tetapi untuk masuk ke zona yang lebih
nyaman.
Alhamdulillah
.
- Terus meningkatkan kualitas
diri dan berpikir positif
Tentu belum
lupa ‘kan, bahwa Rasulullah Shallallahu Alayhi wa Sallam bersabda bahwa: “Siapa
yang hari ini sama seperti hari kemarin maka dia orang yang merugi. Siapa yang
hari ini lebih baik dari hari kemarin maka dia orang yang beruntung. Maka siapa
yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka dia orang yang terlaknat”,
serta sebuah Hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a.: “Rasulullah
Shallallahu Alayhi wa Sallam bersabda: Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai
dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika dia
mengingat-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku pun akan
mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam suatu jama’ah
manusia, maka Aku pun akan mengingatnya dalam suatu kumpulan mahluk yang lebih
baik dari mereka. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan
mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan
mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku
akan datang kepadanya dengan berlari.” (Shahih Muslim No.4832).
Hal tersebut merupakan motivasi bagi kita untuk selalu berusaha lebih baik dan
bersikap optimis, karena sesungguhnya pertolongan Allah sangatlah dekat.
Jadi kawan,
begitulah, hari terus berganti, waktu terus berjalan, jatah usia kita pun
semakin berkurang, sementara masih banyak amal baik yang belum kita perbuat.
Jangan sia-siakan kesempatan yang ada dengan melakukan hal-hal yang tidak
bermanfaat.
Mari berbuat lebih baik lagi dari waktu-waktu yang telah berlalu dan selalu
menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Insya Allah.
Bekasi,
jelang 01 01 13
*ditulis di tengah bisingnya petasan bersahut-sahutan*