Kata orang, saat ini, jaman now, adalah zaman instan.
Semua serba instan, dari makanan sampai cita-cita, inginnya yang instan-instan.
Makan mi, tinggal rebus air, ambil mi instan yang sudah dikemas bersama bumbu-bumbunya, trus cemplung-cemplung.
Bikin kopi, tinggal ambil kopi sachet-an 3 in 1, seduh dengan air panas.
Mau dapat nilai bagus dalam ujian, tinggal cari makelar soal dan jawaban, bayar senilai sekian, hafalkan jawabannya. Ssttt ... jangan ditiru!!
Pengen kaya, tinggal tipu sana-sini. #ehh ... nggak boleh ya 😂.
Ingin masuk surga, tapi di dunia maunya foya-foya penuh maksiat. Jlebb!!
Sebenarnya hal itu adalah tanggung jawab dari masing-masing individu, ingin mencari jalan pintas (yang belum tentu halal dan thayib) atau melalui (dan menikmati) proses (yang belum tentu cepat) untuk mencapai tujuannya.
Demikian juga dengan menulis.
Perlu proses untuk meningkatkan skill menulis kita (ini yang saya alami dan rasakan).
Mungkin proses yang dilalui masing-masing orang belum tentu sama, ada yang cepat dan ada pula yang agak lama (kelihatannya saya termasuk kategori yang kedua. Ha ha ha ... 😂😂).
Tahun 2012 yang lalu saya pernah menulis tentang proses terbitnya buku solo pertama saya, "Edelweiss Terakhir" di sini: "My First Book: 'Edelweiss Terakhir' - A Long Process". Dari judulnya aja sudah kebayang lamanya 'kan ya?










