Jumat, 27 Oktober 2017

Mensyukuri Proses

Kata orang, saat ini, jaman now, adalah zaman instan.
Semua serba instan, dari makanan sampai cita-cita, inginnya yang instan-instan.
Makan mi, tinggal rebus air, ambil mi instan yang sudah dikemas bersama bumbu-bumbunya, trus cemplung-cemplung.
Bikin kopi, tinggal ambil kopi sachet-an 3 in 1, seduh dengan air panas.
Mau dapat nilai bagus dalam ujian, tinggal cari makelar soal dan jawaban, bayar senilai sekian, hafalkan jawabannya. Ssttt ... jangan ditiru!!
Pengen kaya, tinggal tipu sana-sini. #ehh ... nggak boleh ya 😂.
Ingin masuk surga, tapi di dunia maunya foya-foya penuh maksiat. Jlebb!!

Sebenarnya hal itu adalah tanggung jawab dari masing-masing individu, ingin mencari jalan pintas (yang belum tentu halal dan thayib) atau melalui (dan menikmati) proses (yang belum tentu cepat) untuk mencapai tujuannya.
Semuanya akan dihisab di akhirat kelak.


Demikian juga dengan menulis.
Perlu proses untuk meningkatkan skill menulis kita (ini yang saya alami dan rasakan).
Mungkin proses yang dilalui masing-masing orang belum tentu sama, ada yang cepat dan ada pula yang agak lama (kelihatannya saya termasuk kategori yang kedua. Ha ha ha ... 😂😂).

Tahun 2012 yang lalu saya pernah menulis tentang proses terbitnya buku solo pertama saya, "Edelweiss Terakhir" di sini: "My First Book: 'Edelweiss Terakhir' - A Long Process". Dari judulnya aja sudah kebayang lamanya 'kan ya?

Kamis, 26 Oktober 2017

Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 12

Bersafar merupakan bagian dari adzab sebagaimana telah diuraikan dalam tulisan sebelumnya: 'Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 11'.
Pada tulisan ini yang merupakan bagian terakhir dari adab-adab di dalam perjalanan, akan dibahas mengenai kepulangan seorang musafir setelah bersafar.


  • Mengabarkan kepada keluarga tentang kepulangannya

Hendaknya seorang musafir memberi kabar baik dengan surat, melalui telepon, atau lainnya, bahwa ia sedang dalam perjalanan atau pulang pada hari ini atau saat ini, sehingga keluarganya dapat membuat persiapan untuk menyambutnya dan menyiapkan diri untuk itu.

Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam berkata kepada Sahabatnya sekembalinya dari safar:

Rabu, 25 Oktober 2017

Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 11

Rasulullah menganjurkan kita untuk bersafar pada malam hari. Mengapa?
Hal ini telah dibahas dalam tulisan sebelumnya: 'Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 10'.
Berikut ini akan dibahas adab-adab bersafar yang lainnya:

  • Menjauhkan diri dari perbuatan maksiat
Meninggalkan perbuatan maksiat (yang besar maupun kecil) wajib hukumnya setiap waktu. Hanya saja, musafir kadang kala dibujuk dan dirayu oleh syaitan untuk jatuh ke dalam perbuatan maksiat, bahkan syaitan menggambarkan indahnya perbuatan maksiat itu kepadanya. Terlebih lagi di tempat di mana tak seorang pun dapat mengenalinya. Syaitan akan terus merayunya agar jatuh dalam perkara yang buruk.
Berapa banyak wanita-wanita yang menjaga hijab (jilbab) dan menutup aurat di negerinya, namun ketika keluar dari negerinya ia membuka hijab dan menampakkan aurat tubuhnya, bahkan berani berbuat maksiat.
Berapa banyak laki-laki yang keluar dari tempat tinggalnya lalu mendatangi tempat-tempat munkar, memakai pakaian orang-orang fasik, serta menghabiskan harta dan waktunya untuk bermaksiat kepada Allah.

Selasa, 24 Oktober 2017

Keindahan Pasir TImbul di Raja Ampat

Raja Ampat di Papua Barat menyimpan berjuta keelokan yang rasanya tak akan habis diceritakan.
Beberapa tulisan kami sebelumnya telah berkisah tentang cantiknya Raja Ampat:


Kali ini kita akan menjelajah ke sebuah tempat yang tak kalah cantiknya di sana, yang dikenal dengan Pasir Timbul di Pulau Mansuar, Raja Ampat.
Pasir Timbul sebenarnya adalah hamparan pasir putih yang membentuk pulau di tengah lautan di Raja Ampat.
Bila air laut sedang pasang pulau ini tidak akan nampak, sebaliknya bila air laut surut maka ia akan terlihat (timbul).

Biasanya sang pasir akan timbul sekitar pagi hari mulai jam 06.00 dan juga sore hari.
Setelah puas ber-snorkeling di Yenbuba, rombongan kami pun langsung menuju ke Pasir Timbul menjelang sore hari dengan perkiraan pada saat itu air laut sedang surut.

Senin, 23 Oktober 2017

Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 10

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya: 'Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 9' yang membahas tentang beristirahat di tengah perjalanan (safar).
Berikut ini akan diuraikan mengenai keutamaan bersafar pada malam hari.



  • Menjadikan waktu safar banyak dilakukan pada malam hari
Jika memungkinkan dan seseorang bisa mengendalikan alat transportasi yang dikendarai tanpa menimbulkan mudharat baginya, maka bersafar pada malam hari adalah baik.
Namun apabila ada mudharat dan kesulitan, misalnya lemah pandangan sehingga tidak mampu menyetir pada malam hari atau terikat safar dalam alat transportasi umum sehingga tidak mampu meninggalkannya, maka janganlah menyusahkan diri sendiri.
Sebaiknya, jika safar itu memungkinkan baginya, maka sesungguhnya safar pada malam hari itu lebih ringan daripada siang hari.

Minggu, 22 Oktober 2017

Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 9

Pada tulisan sebelumnya: 'Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 8' telah dibahas mengenai doa dan dzikir ketika bersafar.
Selanjutnya pada tulisan ini akan dijelaskan mengenai beristirahat dalam melakukan safar.


  • Istirahat di tengah perjalanan
Hendaknya musafir beristirahat di tengah perjalanan, terlebih bila jarak safarnya sangat jauh. Oleh karenanya setiap kali ada kesempatan hendaklah mereka berhenti, mengistirahatkan kendaraan, mobil, atau tunggangannya. Ketika beristirahat, mereka menyiapkan hal-hal yang perlu disiapkan (bahan bakar, air, dan lain-lain), atau memberikan makanan untuk hewan tunggangan, juga mengistirahatkan badan, menunaikan hajat, mencicipi hidangan makanan, minuman, dan sejenisnya.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
"Apabila kalian tengah melintasi tanah yang subur, maka berilah bagian kepada unta tunggangan untuk makan dari rumputnya ..." 
Hendaknya kita memperhatikan adab-adab ini agar alat transportasi yang digunakan bisa melewati berbagai kesulitan dalam safar.
Para musafir hendaknya juga tidur bila mampu. Sebab, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersafar lalu singgah pada malam hari, maka beliau pun berbaring di atas sisi kanan beliau. Sementara apabila singgah menjelang shubuh beliau menegakkan lengan dan meletakkan kepala beliau di atas punggung telapak tangan beliau." (HR. Muslim [683] dari Anas Radhiyallahu 'anhu).
Dalam hadits ini terdapat dalil dianjurkannya tidur untuk istirahat, bahkan dijelaskan pula tata cara tidur yang dianjurkan.

Jumat, 20 Oktober 2017

Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 8

Dalam tulisan sebelumnya: Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 7 telah dijelaskan mengenai doa keluar rumah dan doa naik kendaraan.
Kemudian doa dan dzikir apa lagi yang perlu kita ucapkan ketika berada di dalam perjalanan? 


  • Doa bersafar
Apabila kendaraan untuk bersafar telah bergerak dan mulai berjalan hendaklah berdoa dengan doa yang diriwayatkan oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang artinya:
"Ya, Allah, sesungguhnya kami memohon kebaikan dan takwa dalam bepergian ini, kami memohon perbuatan yang Engkau ridhai. Ya, Allah, permudahlah perjalanan kami ini, dan dekatkan jaraknya bagi kami. Ya, Allah, Engkaulah pendampingku di dalam bepergian dan pengganti dalam mengurus keluargaku (yang ditinggalkan). Ya. Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari kelelahan dalam bepergian, pemandangan yang menyedihkan, serta keadaan yang buruk dalam harta dan keluarga saat kembali."
Hendaknya juga mengucapkan ta'awudz yang biasa diucapkan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
"Jika melakukan safar, beliau berlindung dari beratnya safar, dari buruknya saat kembali, dari kesesatan setelah mendapatkan hidayah, dari do'a orang yang terzhalimi, serta dari buruknya kondisi pada keluarga dan harta."

Kamis, 19 Oktober 2017

Simpang Lima, Landmark Kota Semarang

Simpang Lima merupakan salah satu landmark kota Semarang sejak dulu.
Wujudnya adalah ruang terbuka berupa sebuah lapangan (yang sebenarnya bernama Lapangan Pancasila) di pusat kota Semarang dan menjadi pusat pertemuan dari  lima jalan, yaitu Jl. Pahlawan, Jl. Pandanaran, Jl. Gadjah Mada, Jl. Ahmad Dahlan, serta Jl. Ahmad Yani.

Lapangan Simpang Lima Semarang

Dulu, Simpang Lima dijadikan sebagai pusat alun-alun berdasarkan usulan Presiden pertama RI (Ir. Soekarno) karena pusat alun-alun yang awalnya terletak di Kauman telah berubah fungsinya menjadi pusat perbelanjaan.

Pada saat pembangunan lapangan Pancasila, saat itu pembangunannya akan dilakukan di Jl. Oei Tiong Ham (Jl. Pahlawan sekarang).
Kemudian lapangan ini bisa terbangun pada tahun 1969.
Karena lapangan Pancasila merupakan pusat bertemunya lima jalan besar, maka lebih dikenal dengan nama Simpang Lima.

Rabu, 18 Oktober 2017

Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 7

Pada tulisan sebelumnya: Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 6 telah dibahas mengenai apa yang hendaknya dilakukan oleh seorang pemimpin rombongan dalam perjalanan.
Selanjutnya akan diuraikan beberapa doa terkakit dengan safar.


  • Safar pada hari Kamis
Safar yang dilakukan pada hari Kamis adalah sunnah sebagaimana disebutkan dalam hadits:
"Jarang sekali Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam keluar apabila beliau hendak bersafar, melainkan pada hari Kamis." (HR. Al-Bukhari [2949] dari Ka'ab bin Malik).
Ini adalah sunnah yang penuh berkah, yang perlu diperhatikan untuk dilakukan apabila memungkinkan. Namun jika tidak, sesungguhnya hal ini tidak wajib. Terlebih lagi bila ada keharusan bersafar pada hari selain Kamis.
  • Keluar pagi-pagi untuk bersafar
Hendaknya seseorang yang bersafar berangkat pagi-oagi bila memungkinkan.
Hal ini dapat mendatangkan berkah dan menggairahkan semangat serta mempercepat sampainya ke tempat tujuan.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
"'Ya, Allah, berkahilah urusan ummatku yang dikerjakan di pagi hari.'"
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam biasa mengirim pasukan di pagi hari. Oleh karena itu hendaklah memperhatikan adab ini sedapat mungkin karena pada pagi hari terdapat berkah. Namun jika tidak, juga tidak mengapa.

Selasa, 17 Oktober 2017

Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 6

Dalam tulisan sebelumnya: 'Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 5
telah dibahas mengenai pentingnya mengangkat seorang pemimpin dalam rombongan yang sedang bersafar.
Lantas, hal-hal apa saja yang sebaiknya dilakukan oleh seorang pemimpin rombongan?


  • Seorang pemimpin hendaklah bermusyawarah dengan anggota rombongan
Janganlah seorang pemimpin memaksakan kehendaknya di dalam mengambil keputusan.
Hendaklah ia bermusyawarah dan mendengarkan pendapat anggota rombongannya. Barangkali ia akan mendapatkan kebenaran dari pendapat mereka.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"... Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka ..." (QS. Asy-Syuura: 38).
 "... Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu ..." (QS. Ali 'Imran: 159).
Seorang pemimpin memilih pendapat yang bail diantara pendapat-pendapat yang ada, atau dari pendapatnya.
Siapa saja yang tidak diambil pendapatnya tidak boleh menyelisihi pemimpin, marah, atau melecehkannya.
Hendaknya ia menerima  pendapat anggota rombongan.
Janganlah ia memprovokasi orang lain dan menceraiberaikan barisan serta memecah belah jamaah safar.