Jumat, 19 Juli 2024

Dompet Dhuafa, A Smiling Foundation

"Senyum adalah sedekah".

Sebuah kalimat yang sering kita jumpai, yang merujuk pada sebuah hadits:
Dari Abu Dzar Radhiyallahu 'Anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam bersabda,

"Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu."

Hadits ini menunjukkan keutamaan tersenyum dan bermuka manis di hadapan seorang muslim, dan semakna dengan sabda Rasulullah Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,

"Janganlah sekali-kali engkau menganggap remeh suatu perbuatan baik, meskipun (perbuatan baik itu) dengan engkau menjumpai saudaramu (sesama muslim) dengan wajah yang ceria."

Tak salah bila Dompet Dhuafa (DD)  mengusung tema "A Smiling Foundation" dalam miladnya yang ke-31, tanggal 2 Juli 2024 ini.
Dompet Dhuafa bertekad menjadi lembaga yang mengabdi untuk masyarakat dengan bermartabat, selalu tersenyum dalam menjalankan aktivitasnya melayani seluruh stakeholder (mustahik, muzaki, muwakif, dan sebagainya).



Kamis, 22 April 2021

Menjemput Impian

Indah larik pelangi seusai hujan membuka hari
Samar dirajut mega garis wajahmu lembut tercipta
Telah jauh kutempuh perjalanan, bawa sebentuk cinta
Menjemput impian ...

Desau rindu meresap, kenangan haru kudekap
S'makin dekat tuntaskan penantian, kekasih aku pulang
Menjemput impian ...

Kau dan aku jadi satu arungi laut biru
Tak kan ada yang kuasa mengusik haluannya
Kau dan aku jadi satu, sambut datangku

Sekian lama waktu telah mngurai makna
CInta kita gemerlap terasah masa

Kan kubuat prasasti dari tulusnya janji
Walau apa terjadi tetap tegak berdiri

Kau dan aku jadi satu arungi laut biru
Tak kan ada yang kuasa mengusik haluannya
Kau dan aku jadi satu arungi laut bru
Kau dan aku jadi satu, bersama kita jemput impian ...


(KLa Project, dari album KLaSIK, tahun 2000).


***


Pada suatu masa ...
pernah mengangankannya.

Di masa datang ...
mungkinkah mewujud?

Semoga ...

Selasa, 23 Januari 2018

Perjalanan ke Al Aqsa


 "Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat." 
(QS. Al-Isra': 1).

Alhamdulillah, perjalanan yang sangat luar biasa.
Tak henti-hentinya bersyukur atas perlindungan dan kemudahan yang Allah berikan selama dalam perjalanan, hari-hari yang singkat tapi indah di sana, hingga pulang kembali ke rumah.

Minggu, 24 Desember 2017

Berbagi dari Hati, untuk Menjadi Solusi

Berbagi dan menjadi solusi.
Dua hal yang membawa kebaikan dan harus selalu kita amalkan.

Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261)
Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan, “Ayat ini sangat memotivasi hati untuk gemar berinfak. Ayat ini merupakan isyarat bahwa setiap amal sholih yang dilakukan akan diiming-imingi pahala yang berlimpah bagi pelakunya. Sebagaimana Allah mengiming-imingi tanaman bagi siapa yang menanamnya di tanah yang baik (subur). Terdapat dalam hadits bahwa setiap kebaikan akan dilipatgandakan hingga 700 kali lipat”. Inilah permisalan yang Allah gambarkan yang menunjukkan berlipat gandanya pahala orang yang berinfak di jalan Allah dengan selalu selalu mengharap ridho-Nya.

Demikianlah janji Allah bagi umat-Nya yang gemar berinfak (berbagi).
Sedangkan terkait menjadi bagian dari solusi, hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam:

Kamis, 30 November 2017

Menjadi Sebaik-baik Perhiasan Dunia

"Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'." (QS. Ibrahim: 7)
 
Bersyukur.

Inilah key word yang harus kita ingat dan amalkan selalu, selama hayat masih dikandung badan.
Allah sendiri yang menjanjikan kepada kita dalam ayat di atas, bahwa jika kita bersyukur maka nikmat-Nya akan semakin ditambah, dan sebaliknya, bila kita ingkar maka azab Allah sangatlah pedih.

Menjadi muslimah, adalah salah satu nikmat yang wajib kita syukuri.
Sebagaimana kita tahu, wanita sangat dimuliakan kedudukannya dalam Islam, dan sudah selayaknya kita menjaga dengan baik kemuliaan ini.

Selasa, 31 Oktober 2017

Adab Berjalan - 3

Pada tulisan sebelumnya, 'Adab Berjalan - 2' telah dijelaskan hal-hal terkait postur tubuh pada saat berjalan.
Berikut ini adalah bagian terakhir yang membahas tentang adab-adab berjalan yang lainnya.


  • Menghindari cara berjalan yang tercela 
Diantara cara jalan yang tercela:
    • Berjalan dengan sombong dan takabur. Ini adalah cara jalan orang sombong dan ujub terhadap diri sendiri.
    • Berjalan dengan gelisah dan gemetar, yaitu dengan menoleh ke kanan, ke kiri, dan ke belakang. Ini adalah cara jalan orang yang goncang akalnya.
    • Berjalan dengan loyo seperti orang sakit. Ini adalah cara berjalan yang buruk.
    • Berjalan dengan berlenggak lenggpk disertai gerakan lemah gemulai sehingga meniru lawan jenisnya (kaum wanita).
    • Berjalan terburu-buru dan terlalu cepat seperti seperti berlari tanpa hajat dan keperluan.
    • Berjalan terburu-buru dan terlalu cepat seperti berlari tanpa hajat dan keperluan.
    • Berjalan seakan-akan melompat.

Adab Berjalan - 2

Bersikap tawadhu' dan meninggalkan sikap sombong adalah salah satu adab yang harus dimiliki oleh seorang seorang muslim, termasuk dalam berjalan.
Hal ini telah dijelaskan dalam tulisan sebelumnya, 'Adab Berjalan - 1'.
Berikut ini akan dibahas adab-adab berjalan yang lainnya:


  • Berjalan normal
Yang dimaksud berjalan normal adalah pertengahan, antara berjalan terlalu lambat dan terlalu cepat.
Allah berfirman:
"... Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS. Luqman: 18).
Ibnu Katsir berkata, "Maksudnya, berjalan biasa saja, tidak terlalu lambat dan tidak terlalu cepat. Namun, pertengahan di antara keduanya." (Tafsir Ibnu Katsir [III/585]).

Senin, 30 Oktober 2017

Adab Berjalan - 1

Berjalan adalah aktivitas yang (hampir) selalu kita lakukan.
Bila seseorang berjalan di jalan untuk suatu urusan, hendaknya ia menjaga adab-adab khususnya yang berkaitan dengan berjalan, diantaranya:


  • Niat yang benar
Hendaknya seseorang menghadirkan niat yang benar ketika berjalan. Jika seseorang berjalan untuk menziarahi sahabatnya, hendaklah ia meniatkannya untuk mencari ridha Allah Ta'ala dalam ziarah tersebut. Bila berjalan ke masjid, hendaknya menghadirkan niat untuk beribadah kepada Allah Ta'ala. Jika keluar bekerja, hendaknya ia berniat untuk mencari rizqi dan penghidupan bagi keluarganya. Bila berjalan untuk suatu permainan yang diperbolehkan, hendaknya meniatkan untuk mencari penyegaran agar jiwa kembali segar dan bersemangat dalam beribadah dan lain-lain.

Jumat, 27 Oktober 2017

Mensyukuri Proses

Kata orang, saat ini, jaman now, adalah zaman instan.
Semua serba instan, dari makanan sampai cita-cita, inginnya yang instan-instan.
Makan mi, tinggal rebus air, ambil mi instan yang sudah dikemas bersama bumbu-bumbunya, trus cemplung-cemplung.
Bikin kopi, tinggal ambil kopi sachet-an 3 in 1, seduh dengan air panas.
Mau dapat nilai bagus dalam ujian, tinggal cari makelar soal dan jawaban, bayar senilai sekian, hafalkan jawabannya. Ssttt ... jangan ditiru!!
Pengen kaya, tinggal tipu sana-sini. #ehh ... nggak boleh ya 😂.
Ingin masuk surga, tapi di dunia maunya foya-foya penuh maksiat. Jlebb!!

Sebenarnya hal itu adalah tanggung jawab dari masing-masing individu, ingin mencari jalan pintas (yang belum tentu halal dan thayib) atau melalui (dan menikmati) proses (yang belum tentu cepat) untuk mencapai tujuannya.
Semuanya akan dihisab di akhirat kelak.


Demikian juga dengan menulis.
Perlu proses untuk meningkatkan skill menulis kita (ini yang saya alami dan rasakan).
Mungkin proses yang dilalui masing-masing orang belum tentu sama, ada yang cepat dan ada pula yang agak lama (kelihatannya saya termasuk kategori yang kedua. Ha ha ha ... 😂😂).

Tahun 2012 yang lalu saya pernah menulis tentang proses terbitnya buku solo pertama saya, "Edelweiss Terakhir" di sini: "My First Book: 'Edelweiss Terakhir' - A Long Process". Dari judulnya aja sudah kebayang lamanya 'kan ya?

Kamis, 26 Oktober 2017

Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 12

Bersafar merupakan bagian dari adzab sebagaimana telah diuraikan dalam tulisan sebelumnya: 'Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 11'.
Pada tulisan ini yang merupakan bagian terakhir dari adab-adab di dalam perjalanan, akan dibahas mengenai kepulangan seorang musafir setelah bersafar.


  • Mengabarkan kepada keluarga tentang kepulangannya

Hendaknya seorang musafir memberi kabar baik dengan surat, melalui telepon, atau lainnya, bahwa ia sedang dalam perjalanan atau pulang pada hari ini atau saat ini, sehingga keluarganya dapat membuat persiapan untuk menyambutnya dan menyiapkan diri untuk itu.

Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam berkata kepada Sahabatnya sekembalinya dari safar:

Rabu, 25 Oktober 2017

Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 11

Rasulullah menganjurkan kita untuk bersafar pada malam hari. Mengapa?
Hal ini telah dibahas dalam tulisan sebelumnya: 'Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 10'.
Berikut ini akan dibahas adab-adab bersafar yang lainnya:

  • Menjauhkan diri dari perbuatan maksiat
Meninggalkan perbuatan maksiat (yang besar maupun kecil) wajib hukumnya setiap waktu. Hanya saja, musafir kadang kala dibujuk dan dirayu oleh syaitan untuk jatuh ke dalam perbuatan maksiat, bahkan syaitan menggambarkan indahnya perbuatan maksiat itu kepadanya. Terlebih lagi di tempat di mana tak seorang pun dapat mengenalinya. Syaitan akan terus merayunya agar jatuh dalam perkara yang buruk.
Berapa banyak wanita-wanita yang menjaga hijab (jilbab) dan menutup aurat di negerinya, namun ketika keluar dari negerinya ia membuka hijab dan menampakkan aurat tubuhnya, bahkan berani berbuat maksiat.
Berapa banyak laki-laki yang keluar dari tempat tinggalnya lalu mendatangi tempat-tempat munkar, memakai pakaian orang-orang fasik, serta menghabiskan harta dan waktunya untuk bermaksiat kepada Allah.

Selasa, 24 Oktober 2017

Keindahan Pasir TImbul di Raja Ampat

Raja Ampat di Papua Barat menyimpan berjuta keelokan yang rasanya tak akan habis diceritakan.
Beberapa tulisan kami sebelumnya telah berkisah tentang cantiknya Raja Ampat:


Kali ini kita akan menjelajah ke sebuah tempat yang tak kalah cantiknya di sana, yang dikenal dengan Pasir Timbul di Pulau Mansuar, Raja Ampat.
Pasir Timbul sebenarnya adalah hamparan pasir putih yang membentuk pulau di tengah lautan di Raja Ampat.
Bila air laut sedang pasang pulau ini tidak akan nampak, sebaliknya bila air laut surut maka ia akan terlihat (timbul).

Biasanya sang pasir akan timbul sekitar pagi hari mulai jam 06.00 dan juga sore hari.
Setelah puas ber-snorkeling di Yenbuba, rombongan kami pun langsung menuju ke Pasir Timbul menjelang sore hari dengan perkiraan pada saat itu air laut sedang surut.

Senin, 23 Oktober 2017

Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 10

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya: 'Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 9' yang membahas tentang beristirahat di tengah perjalanan (safar).
Berikut ini akan diuraikan mengenai keutamaan bersafar pada malam hari.



  • Menjadikan waktu safar banyak dilakukan pada malam hari
Jika memungkinkan dan seseorang bisa mengendalikan alat transportasi yang dikendarai tanpa menimbulkan mudharat baginya, maka bersafar pada malam hari adalah baik.
Namun apabila ada mudharat dan kesulitan, misalnya lemah pandangan sehingga tidak mampu menyetir pada malam hari atau terikat safar dalam alat transportasi umum sehingga tidak mampu meninggalkannya, maka janganlah menyusahkan diri sendiri.
Sebaiknya, jika safar itu memungkinkan baginya, maka sesungguhnya safar pada malam hari itu lebih ringan daripada siang hari.

Minggu, 22 Oktober 2017

Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 9

Pada tulisan sebelumnya: 'Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 8' telah dibahas mengenai doa dan dzikir ketika bersafar.
Selanjutnya pada tulisan ini akan dijelaskan mengenai beristirahat dalam melakukan safar.


  • Istirahat di tengah perjalanan
Hendaknya musafir beristirahat di tengah perjalanan, terlebih bila jarak safarnya sangat jauh. Oleh karenanya setiap kali ada kesempatan hendaklah mereka berhenti, mengistirahatkan kendaraan, mobil, atau tunggangannya. Ketika beristirahat, mereka menyiapkan hal-hal yang perlu disiapkan (bahan bakar, air, dan lain-lain), atau memberikan makanan untuk hewan tunggangan, juga mengistirahatkan badan, menunaikan hajat, mencicipi hidangan makanan, minuman, dan sejenisnya.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
"Apabila kalian tengah melintasi tanah yang subur, maka berilah bagian kepada unta tunggangan untuk makan dari rumputnya ..." 
Hendaknya kita memperhatikan adab-adab ini agar alat transportasi yang digunakan bisa melewati berbagai kesulitan dalam safar.
Para musafir hendaknya juga tidur bila mampu. Sebab, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersafar lalu singgah pada malam hari, maka beliau pun berbaring di atas sisi kanan beliau. Sementara apabila singgah menjelang shubuh beliau menegakkan lengan dan meletakkan kepala beliau di atas punggung telapak tangan beliau." (HR. Muslim [683] dari Anas Radhiyallahu 'anhu).
Dalam hadits ini terdapat dalil dianjurkannya tidur untuk istirahat, bahkan dijelaskan pula tata cara tidur yang dianjurkan.

Jumat, 20 Oktober 2017

Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 8

Dalam tulisan sebelumnya: Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 7 telah dijelaskan mengenai doa keluar rumah dan doa naik kendaraan.
Kemudian doa dan dzikir apa lagi yang perlu kita ucapkan ketika berada di dalam perjalanan? 


  • Doa bersafar
Apabila kendaraan untuk bersafar telah bergerak dan mulai berjalan hendaklah berdoa dengan doa yang diriwayatkan oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang artinya:
"Ya, Allah, sesungguhnya kami memohon kebaikan dan takwa dalam bepergian ini, kami memohon perbuatan yang Engkau ridhai. Ya, Allah, permudahlah perjalanan kami ini, dan dekatkan jaraknya bagi kami. Ya, Allah, Engkaulah pendampingku di dalam bepergian dan pengganti dalam mengurus keluargaku (yang ditinggalkan). Ya. Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari kelelahan dalam bepergian, pemandangan yang menyedihkan, serta keadaan yang buruk dalam harta dan keluarga saat kembali."
Hendaknya juga mengucapkan ta'awudz yang biasa diucapkan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
"Jika melakukan safar, beliau berlindung dari beratnya safar, dari buruknya saat kembali, dari kesesatan setelah mendapatkan hidayah, dari do'a orang yang terzhalimi, serta dari buruknya kondisi pada keluarga dan harta."

Kamis, 19 Oktober 2017

Simpang Lima, Landmark Kota Semarang

Simpang Lima merupakan salah satu landmark kota Semarang sejak dulu.
Wujudnya adalah ruang terbuka berupa sebuah lapangan (yang sebenarnya bernama Lapangan Pancasila) di pusat kota Semarang dan menjadi pusat pertemuan dari  lima jalan, yaitu Jl. Pahlawan, Jl. Pandanaran, Jl. Gadjah Mada, Jl. Ahmad Dahlan, serta Jl. Ahmad Yani.

Lapangan Simpang Lima Semarang

Dulu, Simpang Lima dijadikan sebagai pusat alun-alun berdasarkan usulan Presiden pertama RI (Ir. Soekarno) karena pusat alun-alun yang awalnya terletak di Kauman telah berubah fungsinya menjadi pusat perbelanjaan.

Pada saat pembangunan lapangan Pancasila, saat itu pembangunannya akan dilakukan di Jl. Oei Tiong Ham (Jl. Pahlawan sekarang).
Kemudian lapangan ini bisa terbangun pada tahun 1969.
Karena lapangan Pancasila merupakan pusat bertemunya lima jalan besar, maka lebih dikenal dengan nama Simpang Lima.

Rabu, 18 Oktober 2017

Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 7

Pada tulisan sebelumnya: Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 6 telah dibahas mengenai apa yang hendaknya dilakukan oleh seorang pemimpin rombongan dalam perjalanan.
Selanjutnya akan diuraikan beberapa doa terkakit dengan safar.


  • Safar pada hari Kamis
Safar yang dilakukan pada hari Kamis adalah sunnah sebagaimana disebutkan dalam hadits:
"Jarang sekali Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam keluar apabila beliau hendak bersafar, melainkan pada hari Kamis." (HR. Al-Bukhari [2949] dari Ka'ab bin Malik).
Ini adalah sunnah yang penuh berkah, yang perlu diperhatikan untuk dilakukan apabila memungkinkan. Namun jika tidak, sesungguhnya hal ini tidak wajib. Terlebih lagi bila ada keharusan bersafar pada hari selain Kamis.
  • Keluar pagi-pagi untuk bersafar
Hendaknya seseorang yang bersafar berangkat pagi-oagi bila memungkinkan.
Hal ini dapat mendatangkan berkah dan menggairahkan semangat serta mempercepat sampainya ke tempat tujuan.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
"'Ya, Allah, berkahilah urusan ummatku yang dikerjakan di pagi hari.'"
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam biasa mengirim pasukan di pagi hari. Oleh karena itu hendaklah memperhatikan adab ini sedapat mungkin karena pada pagi hari terdapat berkah. Namun jika tidak, juga tidak mengapa.

Selasa, 17 Oktober 2017

Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 6

Dalam tulisan sebelumnya: 'Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 5
telah dibahas mengenai pentingnya mengangkat seorang pemimpin dalam rombongan yang sedang bersafar.
Lantas, hal-hal apa saja yang sebaiknya dilakukan oleh seorang pemimpin rombongan?


  • Seorang pemimpin hendaklah bermusyawarah dengan anggota rombongan
Janganlah seorang pemimpin memaksakan kehendaknya di dalam mengambil keputusan.
Hendaklah ia bermusyawarah dan mendengarkan pendapat anggota rombongannya. Barangkali ia akan mendapatkan kebenaran dari pendapat mereka.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"... Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka ..." (QS. Asy-Syuura: 38).
 "... Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu ..." (QS. Ali 'Imran: 159).
Seorang pemimpin memilih pendapat yang bail diantara pendapat-pendapat yang ada, atau dari pendapatnya.
Siapa saja yang tidak diambil pendapatnya tidak boleh menyelisihi pemimpin, marah, atau melecehkannya.
Hendaknya ia menerima  pendapat anggota rombongan.
Janganlah ia memprovokasi orang lain dan menceraiberaikan barisan serta memecah belah jamaah safar.

Senin, 16 Oktober 2017

Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 5

Setelah membahas tentang memilih teman dalam bersafar pada tulisan sebelumnya: "Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 4", dalam tulisan kali ini akan dibahas mengenai doa bagi keluarga yang ditinggal bersafar dan pentingnya memilih pemimpin rombongan dalam melakukan perjalanan.


  • Mendoakan keluarga dan karib kerabat yang ditinggalkan
Hal ini dilakukan agar dapat menenangkan perasaan mereka.
Sebagaimana yang dicontohkan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam ketika hendak bersafar, beliau mengucapkan doa untuk keluarganya yang artinya:
"Aku menitipkan kalian kepada Allah yang tidak akan hilang titipannya." (HR. Ahmad [II/403] dan Ibnu Majah [2825] dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu. Lihat kitab Shahiihul Jaami' [958]).
Bila ia titipkan keluarganya kepada Allah, niscaya Allah akan menjaga mereka.
Kemudian mereka pun melepasnya dengan ucapan:
"Kami menitipkan kepada Allah agamamu, amanahmu, dan akhir dari amalanmu." (HR. Ahmad [II/25, 38], Abu Dawud [2600], dan an-Nasa-i di dalam al-Kahiir [V/10346] dari Ibnu 'Umar. Dikeluarkan juga oleh Ahmad [II/7], at-Tirmidzi [3443] dan dishahihkannya, dan Ibnu Majah [2826 dari Ibnu 'Umar. Silakan lihat kitab Shahiihul Jaami' [957]).

Sabtu, 14 Oktober 2017

Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 4

Dalam tulisan sebelumnya: 'Adab di Dalam Perjalanan (As-Safar) - 3' telah dibahas adab-adab bersafar antara lain yang terkait dengan harta untuk keluarga yang ditinggalkan.
Berikut ini beberapa adab bersafar lainnya yang berhubungan dengan teman bersafar.


  • Mengundi di antara isteri-isteri
Mengundi dilakukan apabila seorang laki-laki memiliki lebih dari satu isteri.
Siapa yang keluar undiannya berarti ia yang keluar bersamanya.
Sebagaimana yang dilakukan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam: "Jika hendak keluar (safar), beliau mengundi isteri-isteri beliau. Siapa yang keluar undiannya berarti ia yang keluar bersama Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam." (HR. Al-Bukhari [2879] dari 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha).
Pengundian perlu dilakukan unruk menutup pintu permasalahan dan kecemburuan di antara isteri-isteri, sebab tidak ada campur tangan suami dalam pengundian tersebut.
Sebagaimana dimaklumi bahwa safar itu panjang dan memakan waktu berhari-hari atau bahkan lebih sehingga seseorang membutuhkan keberadaan isterinya.
Adapun safar yang membutuhkan waktu beberapa jam atau satu hari saja, sebenarnya tidak perlu disertai isteri, kecuali bila safarnya berkaitan dengan isteri atau bersafar ke tempat yang terdapat fitnah sehingga membutuhkan kehadiran isterinya.